Netanyahu Klaim Eliminasi Ilmuwan Nuklir Iran di Tengah Simpang Siur Dialog Diplomatik

mediaindonesia.com
11 jam lalu
Cover Berita

PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan militer Israel akan terus melanjutkan serangan terhadap Iran dan Libanon. Pernyataan ini muncul di tengah klaim Presiden AS Donald Trump mengenai adanya peluang kesepakatan diplomatik untuk mengakhiri konflik yang telah memasuki minggu keempat.

Dalam pidatonya yang disiarkan televisi pada Senin (23/3), Netanyahu mengungkapkan telah berkomunikasi dengan Trump. Menurutnya, Presiden AS tersebut percaya adanya kesempatan untuk mengubah keuntungan militer menjadi sebuah perjanjian.

“Trump percaya ada peluang untuk memanfaatkan pencapaian signifikan yang telah kita buat bersama militer AS guna mencapai tujuan perang melalui sebuah perjanjian, perjanjian yang akan menjaga kepentingan vital kita,” ujar Netanyahu.

Baca juga : Jika Perundingan Nuklir Gagal, Israel Serang Iran Seminggu

Serangan Terhadap Program Nuklir

Meski membuka pintu bagi jalur kesepakatan, Netanyahu memastikan intensitas serangan tidak akan berkurang. Ia bahkan mengeklaim operasi intelijen Israel baru saja melumpuhkan tokoh-tokoh kunci dalam program strategis Teheran.

“Beberapa hari yang lalu, kami mengeliminasi dua lagi ilmuwan nuklir, dan lebih banyak tindakan diharapkan akan terjadi,” tegas Netanyahu. “Kami menggempur program rudal dan program nuklir, dan kami terus memberikan pukulan berat kepada Hizbullah. Kami akan menjaga kepentingan vital kami dalam kondisi apa pun.”

Pernyataan ini diperkuat oleh Menteri Pertahanan Israel yang sebelumnya menyatakan AS dan Israel akan "meningkatkan secara signifikan" serangan ke wilayah Iran pada minggu ini.

Baca juga : Donald Trump Perintahkan Tekanan Maksimum terhadap Iran

Pakistan Tawarkan Diri Sebagai Mediator

Di tengah eskalasi militer, titik terang diplomasi muncul dari Islamabad. Juru bicara Kantor Urusan Luar Negeri Pakistan, Tahir Hussain Andrabi, menyatakan kesiapan negaranya untuk memfasilitasi dialog antara Teheran dan Washington.

“Jika kedua belah pihak setuju, Pakistan selalu siap untuk menjadi tuan rumah pembicaraan,” kata Andrabi kepada CNN.

Sejauh ini, komunikasi antara Teheran dan Washington dilaporkan masih berlangsung secara tidak langsung melalui pejabat dari negara-negara perantara seperti Turki dan Mesir sebagai upaya deeskalasi kekerasan regional.

Kontradiksi Klaim Trump dan Iran

Situasi diplomatik saat ini masih diwarnai kesimpangsiuran informasi. Presiden Donald Trump mengeklaim pembicaraan akhir pekan lalu telah menghasilkan 15 poin kesepakatan. Namun, klaim ini dibantah keras Kementerian Luar Negeri Iran melalui media pemerintah yang menyatakan "tidak ada dialog" antara kedua negara.

Kebuntuan informasi ini terjadi saat serangan gabungan AS-Israel ke Iran terus mengguncang kawasan tersebut, meninggalkan tanda tanya besar mengenai efektivitas jalur diplomasi yang tengah diupayakan. (CNN/BBC/Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Minyak Dunia Tembus US$112, Analis Peringatkan Pertanda Buruk Bagi Ekonomi Global
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Motif WN Irak Tega Bunuh Cucu Mpok Nori Akibat Cemburu Buta
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Penampakan Pesawat Air Canada Ringsek Usai Tabrakan dengan Truk Pemadam
• 18 jam laludetik.com
thumb
Tahanan Rumah Yaqut: Saat KPK Berkompromi
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Sensasi Nasi Liwet dan Sambal Cibiuk di Jalur Mudik Limbangan
• 11 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.