Harga Minyak Global Rebound Usai Trump Tunda Serangan ke Iran

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak dunia stabil setelah anjlok lebih dari 11% pada sesi sebelumnya, menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (24/3/2026), harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Mei naik 1,9% menjadi US$101,81 per barel. Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei melonjak 3,1% ke level US$90,83 per barel.

Harga Brent sempat bergerak mendekati US$102 per barel, sedangkan WTI diperdagangkan di sekitar US$91 setelah sesi perdagangan yang sangat volatil. 

Trump mengatakan akan menunda serangan selama lima hari dengan alasan adanya pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri konflik. Namun, Teheran membantah adanya negosiasi, sementara Israel terus melancarkan serangan.

Baca Juga : IEA: Dampak Perang Iran Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970-an

Kekhawatiran juga muncul bahwa perang dapat melibatkan lebih banyak negara. Laporan The Wall Street Journal menyebut sekutu AS di kawasan Teluk Persia mulai mempertimbangkan kontribusi dalam konflik melawan Iran. Salah satunya adalah Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang disebut semakin dekat mengambil keputusan untuk bergabung dalam serangan.

Harga Brent sendiri telah melonjak hampir 40% sepanjang bulan ini di tengah kekhawatiran bahwa konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah dapat memicu krisis energi global serta meningkatkan tekanan inflasi.

Perang juga hampir menghentikan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Kondisi ini memaksa produsen minyak di Teluk Persia memangkas produksi jutaan barel per hari.

Produk turunan minyak seperti diesel dan bahan bakar jet bahkan mengalami kenaikan harga lebih tajam dibandingkan minyak mentah, sehingga meningkatkan tekanan bagi konsumen sekaligus memicu kekhawatiran pemerintah di berbagai negara.

Sementara itu, Iran dilaporkan tengah meninjau pesan yang disampaikan AS melalui mediator, menurut laporan CBS News yang mengutip pejabat senior Kementerian Luar Negeri Iran. Pada saat yang sama, fasilitas gas di kota Isfahan, Iran tengah, dilaporkan menjadi sasaran serangan menurut kantor berita Fars News Agency.

Analis RBC Capital Markets yang dipimpin oleh Helima Croft mengatakan belum jelas sejauh mana pembicaraan tidak resmi antara kedua pihak berkembang, atau apakah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) bersedia mencapai kesepakatan saat mereka masih memegang kendali kuat atas Selat Hormuz.

“Bagi pasar fisik, pergerakan kapal kemungkinan akan lebih menentukan dibandingkan pernyataan politik,” tulis para analis tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah kecil kapal berhasil keluar dari Teluk Persia, meskipun sebagian besar lalu lintas melalui jalur strategis tersebut masih terhambat. Data Bloomberg menunjukkan kapal supertanker pertama yang mengangkut minyak mentah Irak berhasil melintasi Selat Hormuz sejak jalur tersebut hampir ditutup.

Pada akhir pekan lalu, Trump sempat mengancam akan membombardir infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam waktu 48 jam. 

Keputusan untuk menunda serangan dinilai sebagai upaya mengelola lonjakan harga minyak, menurut sumber yang mengetahui pembicaraan diplomatik tersebut.

“Harga minyak akan turun drastis begitu kesepakatan tercapai,” ujar Trump.

Trump juga mengisyaratkan kemungkinan Washington dan Teheran mengelola Selat Hormuz secara bersama. Menurutnya, jalur tersebut bisa segera dibuka kembali jika kesepakatan tercapai.

Peneliti senior Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, Will Todman, menilai hasil negosiasi mungkin menjadi pilihan terbaik di tengah berbagai opsi buruk yang dihadapi Trump.

Namun, menurutnya Iran kemungkinan akan tetap bersikap skeptis dalam pembicaraan tersebut karena khawatir Washington hanya berusaha menunda waktu hingga lebih banyak aset militer tiba di kawasan.

Perubahan pesan yang berulang dari Trump juga membuat investor kelelahan menghadapi arus informasi yang sering kali bertentangan, sehingga menekan volume perdagangan. Bahkan, empat dari enam pergerakan terbesar sepanjang sejarah kontrak berjangka Brent terjadi sejak konflik ini dimulai.

Co-Head Global Commodities Research di Goldman Sachs Group, Daan Struyven, mengatakan jika guncangan pasokan ini berlangsung lama, keketatan pasokan yang saat ini terkonsentrasi di Timur Tengah dan Asia berpotensi menyebar ke seluruh dunia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rentetan Kecelakaan Pesawat di AS Era Trump 2025-2026, Mengapa Mengalami Peningkatan?
• 19 jam lalumediaindonesia.com
thumb
5 Pilihan Tabungan Anak di Bank, Cara Cerdas Kelola Uang Salam Tempel Lebaran
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
Idulfitri, Seskab Sebut Presiden Silaturahmi via Telepon dengan Erdogan hingga Raja Yordania
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Update Pemeriksaan 4 Anggota BAIS TNI Diduga Terlibat Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
Pemerhati: Pengawasan modern tekan penyalahgunaan wewenang Polri
• 6 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.