tvOnenews.com - Dalam panggung sepak bola Indonesia, nama Boaz Solossa bukan sekadar pemain; ia adalah simbol bakat alam yang fenomenal sekaligus personifikasi kesetiaan.
Di tengah tren pemain muda Timnas Indonesia yang kini berlomba-lomba meniti karier di luar negeri, terselip sebuah kisah klasik tentang bagaimana sang "Mutiara Hitam" pernah menolak kesempatan emas untuk mencicipi atmosfer sepak bola Eropa, tepatnya di Liga Belanda.
Kisah ini bermula saat Boaz Solossa berada di puncak performanya bersama Persipura Jayapura dan Timnas Indonesia.
Bakatnya yang luar biasa yang diperlihatkan lewat kecepatan, kontrol bola mumpuni, dan insting gol yang mematikan di lapangan, ternyata tercium hingga ke benua biru.
Klub asal Belanda, VVV-Venlo sempat menyatakan ketertarikan serius untuk memboyong Boaz ke Negeri Kincir Angin.
- Antara
Bagi banyak pemain, tawaran dari klub Belanda adalah tiket emas menuju panggung dunia. Namun, Boaz mengambil keputusan yang mengejutkan banyak pihak.
Ia memilih untuk tetap bertahan di tanah kelahirannya dan melanjutkan pengabdiannya bersama tim kebanggaan masyarakat Papua, Persipura Jayapura.
Keputusan tersebut tentu saja pernah menjadi perdebatan di kalangan pengamat hingga pecinta sepak bola Tanah Air.
Banyak yang menyayangkan karena Boaz dianggap memiliki kualitas yang setara dengan pemain internasional lainnya.
Namun, bagi Boaz kebahagiaan dan kenyamanan batin di rumah sendiri jauh lebih berharga daripada gemerlap karier di Eropa.
- Instagram/boazsolossa
Waktu membuktikan bahwa pilihan Boaz tidak membuatnya meredup. Sebaliknya, ia berhasil membawa Persipura Jayapura mendominasi kompetisi domestik dengan raihan gelar juara liga sebanyak empat kali (2005, 2009, 2011, dan 2013).
Ia juga menjadi pemain lokal terakhir yang mampu meraih gelar top skor berkali-kali di tengah serbuan penyerang asing.
Memasuki Maret 2026, dunia sepak bola Indonesia kembali dibuat takjub. Di usianya yang kini telah menginjak 40 tahun, eksistensi Boaz Solossa terbukti belum habis.
Ia masih tercatat sebagai pemain aktif dan terus memperkuat Persipura Jayapura di kompetisi kasta kedua Indonesia.
Kehadirannya di lapangan bukan sekadar pelengkap. Pemain kelahiran tahun 1986 tersebut tetap menjadi ruh permainan dan mentor bagi para pemain muda Papua.




