Lebaran di Medan, Mari Menyantap Ikan Arsik, Mi Balap, Hingga Steik Eropa Klasik

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Kuliner Medan hanya mengenal dua rasa, enak atau enak sekali. Begitulah orang Medan menggambarkan kelezatan kulinernya. Jika sedang menghabiskan libur Lebaran di Medan, mari santap berbagai jenis kelezatan yang tersaji, mulai dari ikan sale, arsik, mi balap, teh susu telur, atau steik ditemani es krim bergaya Eropa klasik yang melegenda.

Suasana di Kota Medan selama libur Lebaran terasa ramai, Selasa (24/3/2026). Warga ramai-ramai mengunjungi sejumlah tempat pelesiran seperti Lapangan Merdeka Medan, Masjid Raya Al-Mashun Medan, Istana Maimun, dan tentu saja sejumlah tempat kuliner.

Restoran dan rumah makan yang melegenda menjadi pilihan yang sulit untuk dilewatkan. Satu di antaranya adalah rumah makan khas Mandailing atau Tapanuli Selatan. Rumah makan tradisional ini antara lain Rumah Makan Padang Sidimpuan, di Jalan Sei Belutu, dan sejumlah Rumah Makan Mandailing di Jalan Sisingamangaraja.

Mempertahankan resep tradisi dan kualitas makanan menjadi cara rumah makan Tapanuli Selatan dan Mandailing tetap diburu. Menu-menu andalan, seperti ikan sale gulai, belut sale goreng, ikan mas arsik, pora-pora, ayam kampung gulai, daun singkong tumbuk, dan berbagai jenis sambal tradisional, terus dipertahankan.

Ikan sale gulai, misalnya, tetap menggunakan ikan limbat dari sungai-sungai dan rawa di Kabupaten Tapanuli Selatan atau Mandailing. Ikan itu pun sudah diasap dari sana. Ikan dimasak dengan santan yang kental, pedas, dengan campuran sayur terung hijau. Daging ikannya terasa renyah, manis, dengan wangi asap khas ikan sale.

Menu andalan lainnya adalah belut sale goreng. Untuk menjaga cita rasa khasnya, mereka juga mengambil belut sale dari Tapanuli Selatan atau Kota Pekanbaru. Mereka tidak menggunakan belut basah hasil budi daya di Medan.

Menu favorit lainnya adalah ikan mas arsik dengan bumbu dasar kunyit dan santan. Irisan-irisan bawang Batak yang ditabur di atas ikan memberi rasa khas.

Untuk menambah pengalaman kulineran di Medan, Anda sebaiknya jangan melewatkan pengalaman “eat like a local”. Jangan sampai melewatkan mi balap, makanan yang sehari-hari disantap masyarakat urban Kota Medan.

Kehidupan pagi masyarakat urban Kota Medan yang serba buru-buru tergambar dalam sepiring mi balap. Pedagang mi balap berjejer di sepanjang jalan setiap pagi. Mulai dari kawasan elite di tengah kota hingga pinggiran.

Nyaris tiap 100 meter selalu ada mi balap. Meski tersebar di mana-mana, uniknya, tiap kedai tetap saja ramai. Mi balap juga menjadi makanan lintas kelas. Apa yang membuat orang tersedot ke kedai mi balap?

Meskipun ”roh” mi balap adalah harga yang murah, sejumlah warung mi balap bertransformasi membuat mi dengan isian yang lebih lengkap dengan harga yang sedikit lebih mahal. Mi balap beradaptasi dengan kawasan dan target pasarnya.

Mi balap dengan sajian lebih lengkap, antara lain, ada di Mi Balap Mail di Jalan Gunung Krakatau. Kawasan itu memang salah satu pusat perdagangan di Medan. Mereka menarget karyawan kelas menengah, pengusaha, pebisnis, hingga wisatawan.

Namun, tetap saja harganya terbilang sangat terjangkau. Mi balap ini terkenal dengan isian telur yang melimpah dan pilihan tambahan sea food. Untuk memasak 16 porsi, juru masak memberikan 40 butir telur. Jadi, satu porsi itu lebih dari dua telur.

Mi Balap Mail salah satu favorit di Medan. Juru masak tak henti-henti memasak mi di atas tungku kayu bakar. Para pembeli silih berganti mengantre untuk mendapat sebungkus mi. Banyak juga pengojek melayani pesanan dari aplikasi digital pesan-antar makanan.

Sajian mi balap terbilang sederhana. Mi goreng dimasak bersama bumbu pedas, telur, sayur tauge, dan sedikit kecap. Lalu, ditambahkan telur ceplok di atas mi. Namun, mi balap harus dimasak di tempat, cepat, harga terjangkau, tetapi tetap nikmat.

Baca JugaPara Penjaga Resep Tradisi Kuliner di Medan
Lorong waktu

Jika Anda ingin menelusuri lorong waktu jejak rasa Kuliner Medan, Anda bisa singgah di restoran Tip Top di Jalan Jenderal Ahmad Yani. Anda seperti masuk ke mesin waktu yang membawa ke era Eropa klasik.

Menempati bangunan tua bersejarah yang hampir tidak ada perubahan sejak zaman Hindia Belanda, restoran ini tidak hanya sekadar menjual kuliner, tetapi juga heritage dan kenangan.

Properti restoran, seperti kursi, meja, dan lantai bangunan, masih sama dengan kondisi tempo dulu. Mesin kasir tua dan telepon umum koin masih dipajang. Perjalanan panjang restoran itu pun dikukuhkan dengan foto-foto hitam putih berukuran besar dari tahun 1920-an, termasuk foto Toko Roti Jangkie di Jalan Pandu tahun 1929, cikal bakal Tip Top.

Rahasia Tip Top tentu tidak hanya terletak pada bangunan dan properti, tetapi juga menu-menunya yang hampir semuanya dipertahankan. Menu-menu klasik favorit itu adalah bistik lidah lembu, bistik amerika, bitterballen, es krim, dan roti. Cara memasak dan menyajikannya pun hampir semua tetap dipertahankan.

Bistik lidah lembu merupakan salah satu menu favorit dan masih sangat jarang disajikan di restoran-restoran lain. Bistik yang lembut dipadukan dengan kentang, salad, dan saus. Andalan menu itu adalah sausnya yang dibuat dari berbagai jenis sayuran dan rempah, seperti pala dan cengkeh. Selain lidah, menu bistik juga bisa menggunakan daging lembu.

Roti dan es krim klasik juga menjadi ikon Tip Top. Roti dimasak dengan tungku kayu yang sama dari tahun 1934. Tekstur yang dihasilkan lebih kasar sebagaimana roti-roti zaman Eropa klasik.

Es krimnya juga diolah dengan mesin slagroom tempo dulu asli dari Eropa yang cara kerjanya sangat berbeda dengan mesin sekarang. Mesin ini membuat rasa khas susu lebih terasa di mulut. Alat pembuat es krim seperti itu kini hanya dipakai di Tip Top. Alatnya masih disipan di Toko Tian Liong di Glodok, Jakarta Barat, tetapi tidak digunakan lagi untuk membuat es krim komersial.

Medan juga masih punya segudang menu kuliner dari lintas daerah dan lintas negara. Makanan di Medan sudah dipengaruhi statusnya sebagai kota kosmopolitan sejak berabad-abad silam. Sebelum akhir abad ke-19, Jan Breman menulis dalam buku Menjinakkan Sang Kuli, sering satu meja di Medan dikelilingi tujuh tamu yang mewakili beragam bangsa, yaitu Belanda, Prusia, Jerman, Denmark, Inggris, Polandia berkebangsaan Swiss, dan Norwegia.

Kondisi itu membuat kuliner di Medan pun menyesuaikan dengan lidah para pendatang dari berbagai budaya, Eropa, India, China, Jawa, berbaur dengan cita rasa suku-suku di Sumatera Timur dan sekitarnya, seperti Melayu, Karo, Mandailing, Toba, dan Padang. Demikianlah kuliner Kota Medan terbentuk menjadi dua rasa, enak atau enak sekali…

Baca JugaMi Balap, Quick Solution to Urban Stomach

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Beberkan Alasan Kembalikan Yaqut ke Rutan: Ada Jadwal Pemeriksaan
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
8 Cara Mengembalikan Waktu Tidur yang Berantakan Setelah Liburan
• 1 menit lalubeautynesia.id
thumb
Silatnas Perdana SMPN 1 Lilirilau, Alumni Bersatu
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Arus Balik Lebaran, Jasa Marga Tutup Rest Area KM 52B dan Buka-Tutup KM 62B
• 1 menit laluliputan6.com
thumb
Potret Teror di London, 4 Ambulans Yahudi Dibakar di Depan Sinagoge
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.