Populer: Harga Minyak Anjlok Nyaris 11 Persen; Saudi Aramco Pangkas Ekspor

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Penurunan harga minyak mentah menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Selasa (24/3). Selain itu, pemangkasan ekspor minyak oleh Saudi Aramco juga menarik perhatian. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:

Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Mentah Turun Hampir 11%

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan militer ke Iran membawa dampak signifikan terhadap pasar komoditas global. Harga minyak mentah langsung bereaksi dengan penurunan tajam pada penutupan perdagangan Senin (24/3).

Kontrak minyak mentah Brent berjangka anjlok 10,9 persen atau USD 12,25 menjadi USD 99,94 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS juga tergerus 10,3 persen atau USD 10,10, mencapai USD 88,13. Penurunan ini dipicu oleh klaim adanya pembicaraan konstruktif antara AS dan Iran yang meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Meskipun harga minyak menunjukkan koreksi, volatilitas juga terlihat pada komoditas lain. Harga CPO untuk kontrak April justru menguat 1,73 persen ke level MYR 4.580 per ton. Sebaliknya, batu bara berjangka Newcastle turun 4,10 persen menjadi USD 140,50 per ton. Nikel menguat tipis 0,21 persen ke USD 17.019 per ton, sementara timah menurun 0,50 persen, berada di level USD 43.279 per ton.

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional bahkan menyebut krisis energi di Timur Tengah lebih parah dari gabungan guncangan harga minyak tahun 1970-an, menandakan pentingnya dinamika geopolitik terhadap pasar energi global.

Saudi Aramco Pangkas Ekspor Minyak Mentah ke Pasar Asia

Perusahaan minyak raksasa Saudi Aramco telah memangkas pasokan minyak mentah kepada pembeli di Asia untuk bulan kedua berturut-turut pada April 2026. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap gangguan perdagangan melalui Selat Hormuz akibat konflik AS-Israel dengan Iran.

Saudi Aramco mengeklaim tetap berkomitmen memenuhi kebutuhan pelanggan dengan memanfaatkan jalur ekspor alternatif melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, yang jadwal pemuatannya disesuaikan dengan realitas regional yang berubah.

Pemangkasan pasokan ini tercermin dari data ekspor yang menunjukkan penurunan signifikan. Sepanjang Maret, Arab Saudi hanya mengekspor 4,355 juta barel minyak mentah per hari, turun drastis dari 7,108 juta barel per hari pada Februari.

Upaya peningkatan ekspor melalui Yanbu, yang diperkirakan mencapai volume rekor pada Maret, bertujuan mengkompensasi gangguan di Selat Hormuz. Kilang minyak terbesar China, Sinopec, dijadwalkan memuat sekitar 24 juta barel minyak mentah Saudi dari Yanbu pada Maret, meskipun aktivitas di pelabuhan tersebut sempat terganggu oleh insiden drone baru-baru ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sedan Remuk Dihantam Forklift di Cilegon, Sopir Kritis
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Cabai Rawit Tembus Rp104 Ribu per Kg, Daging Ayam Rp43 Ribu Menurut Data PIHPS
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Pemkot Surabaya Akan Awasi Ketat Pendatang, Antisipasi Urbanisasi Usai Lebaran
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Dirlantas Apresiasi PLN Jaga Pasokan Listrik: Bantu Kelancaran Pengamanan Mudik
• 23 jam laludetik.com
thumb
Maling Kepergok Beraksi di Rumah Warga yang Tengah Mudik
• 3 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.