Pedagang kopi keliling seperti Homsyah (35) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan Jakarta. Dua jam menjelang waktu berbuka puasa, Homsyah sudah sibuk mempersiapkan gerobak dagangan kopinya. Di pinggir gang yang hanya muat dilewati sepeda motor, ia mulai membuka terpal plastik yang melindungi gerobak dagangan.
Di dalam gerobak yang diinapkan di pinggir jalan itu, bergelantungan aneka produk minuman kemasan saset. Ketika Homsyah sibuk berberes, suaminya, Hafid, datang membawa lima termos berisi air panas yang dibeli dari warteg seharga Rp 5.000 per termos. Baru beberapa bulan terakhir, Homsyah beralih berjualan kopi dengan menggunakan gerobak yang dibeli seharga Rp 3,5 juta.
Sebagai pedagang kopi keliling, Homsyah terus membangun mimpi untuk bisa naik kelas dan menjadi lebih sejahtera. ”Sebelumnya ngasong pakai kotak gendongan kayu, dari ngasong ke sepeda. Sepeda lumayan ada rezeki bikin gerobak,” ujar Homsyah ditemui di kawasan pedestrian tempatnya biasa menjajakan kopi, tak jauh dari Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta Pusat, Rabu (25/2/2026).
Setiap hari, Homsyah berjualan dengan bergeser ke tiga lokasi berbeda sejak sore hingga pagi. Khusus bulan Ramadhan, ia hanya berjualan hingga sahur. Sementara itu, Hafid biasanya berjualan menggunakan sepeda keliling sepanjang Jalan Sudirman hingga Kawasan Senayan.
”Bulan puasa ini, saya libur dulu. Kalau keliling pakai sepeda malah enggak bisa puasa,” kata Hafid sembari membantu Homsyah memecah bongkahan es batu di gerobaknya.
Sama-sama berasal dari Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur, Homsyah dan Hafid pun membawa beberapa sanak saudaranya untuk turut merantau ke Jakarta. Ketika sedang memangkal di seberang pusat perbelanjaan Grand Indonesia, salah satu keponakan Homsyah datang menghampiri dengan sepeda yang juga sarat dengan dagangan kopi keliling. Mereka menjual kopi panas seharga Rp 4.000 per gelas.
Berdagang kopi keliling menjadi tumpuan harapan Homsyah, terutama untuk menyekolahkan tiga anaknya yang bersekolah di jenjang SD dan SMP di sebuah Pondok Pesantren di Sampang. Sudah berjualan kopi di Jakarta selama lebih kurang 20 tahun, Homsyah yang tak lulus SD ini terus menghidupi harapan agar usaha kopi kelilingnya bisa naik kelas. Karena itu, begitu ada kesempatan, ia tak ragu-ragu untuk belajar.
Ia pun segera menyanggupi ketika memperoleh tawaran untuk mengikuti Kring: Growing & Upscaling yang digelar sehari di Jakarta Creative Hub. Kelas Kring dilanjutkan dengan pendampingan usaha selama dua bulan. Program Kring dihadirkan oleh Pemerintah Provinsi Jakarta melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (PPKUKM) bekerja sama dengan Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek) dan PT Sari Coffee Indonesia (Starbucks Indonesia).
Lewat kelas Kring, Homsyah belajar tentang bagaimana menjaga kebersihan hingga memperbaiki cara melayani pelanggan. Untuk mengaduk kopi panas, misalnya, Homsyah beralih menggunakan sendok logam sebagai pengganti sendok plastik.
Ia juga semakin rapi dalam pembukuan laporan keuangan. Homsyah bahkan menunjukkan pencatatan secara daring di sebuah aplikasi di telepon selulernya yang merekam jumlah pemasukan, pengeluaran, hingga catatan utang.
Dalam sehari, Homsyah bisa memperoleh omzet Rp 700.000-Rp 1.000.000 yang sebagian besar digunakan kembali untuk kulakan aneka minuman saset.
”Dibanding jadi karyawan, dagang gini ada kemungkinan dapat lebihlah. Kemarin ketika hujan yang gede, saya jualan sendirian. Baju basah semua, kan enggak ada yang berdagang. Dapet Rp 2 juta, seumur-umur enggak pernah dapet segini,” ucap Homsyah yang juga sempat menjadi karyawan warteg ketika pertama kali merantau ke Jakarta.
Harapan untuk masa depan yang lebih baik setelah mengikuti Program Kring juga diungkapkan Dhea Anjhany (26) yang bekerja sebagai supervisor di Alfee Coffee Shop. Selain belajar menjadi lebih profesional dalam meracik kopi hingga melayani pelanggan, Dhea juga belajar tentang program keberlanjutan lewat pengolahan limbah kopi agar lebih ramah lingkungan. Bekerja sama dengan UMKM perempuan, ampas kopi di Alfee diolah menjadi lilin pengharum ruangan serta alas asbak.
Pemilik Alfee Coffee Shop, Naugan Simanungkalit, berupaya mendorong karyawannya untuk bisa semakin profesional di bisnis kopi. Bisnis kafe kopi yang menjamur dengan kompetisi yang ketat mengharuskan pemilik usaha di bidang kopi untuk ekstra kreatif.
Alfee Coffee Shop tak hanya menghadirkan racikan kopi dan kudapan yang lokal Indonesia. Kafe ini juga menciptakan ruang nongkrong yang nyaman untuk ngobrol dan bekerja.
Relasi antara pelanggan dan pemilik pun dibangun dengan kedekatan yang sangat personal. Ketika tiba di kafe Alfee yang berlokasi di Apartemen Pancoran Riverside, Jakarta Selatan, Naugan segera menyapa akrab setiap pengunjung dengan menyebut nama panggilan mereka. Ia tak canggung mengobrol dan menanyakan kabar sebelum kemudian berkutat dengan keseharian menjalankan bisnis kopi.
”Sekarang mungkin lagi sepi karena Ramadhan. Tapi tempat kita ini menjadi salah satu hub untuk lokasi di daerah sini. Untuk mereka meeting atau work from everywhere. Jadi, saya rasa, ya, banyak hal yang berubah. Ada yang positif, ada yang negatif, kita menyesuaikan supaya kita bisa bertahan,” ucapnya.
Untuk terus bertahan dan naik kelas, Naugan juga menjalankan bisnis kopi dari hulu hingga hilir, dari kafe kopi hingga eksportir biji kopi. Sebelumnya, Naugan sempat bekerja di sebuah perusahaan eksportir kopi di Amerika Serikat. Ia kemudian mengundurkan diri pada 2017 dan pulang ke Tanah Air untuk membuat perusahaan PT Manal Mamora Indonesia (Mamori).
Pada akhir 2019, Naugan mulai membangun Alfee Coffee Shop di Pancoran, Stasiun MRT Lebak Bulus, dan Sudirman. Kondisi berat dirasakan terutama ketika pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, Alfee sempat mendistribusikan kopi ke 10 bandara dan 30 ritel supermarket seperti Sarinah. Namun, saat ini, Alfee tak lagi mendistribusikan kopi ke retail dan tersisa dua gerai Alfee yang masih bertahan, yaitu di Pancoran dan Sudirman.
”Alhamdulillah kita bertahan, ya, kita survive. Kita tetap buka, sampai sekarang kita sudah berjalan 6 tahun. Ya, pasti yang namanya bisnis up and down. Tapi kita belajar banyak bahwa kita sudah melewati masa-masa yang sangat sulit,” ujar Naugan.
Alfee yang merupakan kependekan dari ’It’s All about Coffee’ juga memasarkan biji kopi, meracik teh daun kopi, dan mengolah sampah kopi. Mamori juga masih rutin melakukan ekspor kopi. Pada awal Maret ini, misalnya, Mamori mengekspor biji kopi ke Yunani.
”So far sudah 4 kontainer yang kita jalanin untuk kopinya. Teh daun kopinya juga sudah kita ekspor, tapi belum sampai 1 kontainer karena memang petaninya juga belum sanggup,” ucapnya.
Alfee pun fokus ke pemberdayakan perempuan dengan 80 persen karyawan adalah perempuan. Alfee, antara lain, memberdayakan perempuan putus sekolah hingga ibu tunggal. Perusahaan juga bekerja sama dengan sekitar 100 petani kopi yang tergabung dalam dua koperasi di Cikoneng, Jawa Barat. Selain itu, juga dengan petani di Temanggung Jawa Tengah, Bali, Aceh, Sumatera Utara, dan Sulawesi. Untuk produksi daun kopi, Alfee juga kolaborasi dengan perempuan petani di Sumatera Barat
Kendala yang dihadapi pelaku UMKM kopi seperti Alfee, antara lain, adalah fluktuasi harga kopi. Kopi arabika grade I, misalnya, naik dari Rp 120.000 menjadi Rp 186.000 per kilogram sejak terjadi bencana banjir di Sumatera. ”Kita enggak bisa naikin harga berulang-ulang. Jadi walaupun harga naik kita enggak bisa tiba-tiba naikin harga di kafe,” ucap Naugan.
Presiden Direktur PT Sari Coffee Indonesia Anthony McEvoy menegaskan bahwa Program Kring menyatukan pemerintah, komunitas, dan sektor swasta untuk memberikan pelatihan langsung dan pendampingan usaha bagi para pelaku UMKM yang bergerak pada bidang kopi. Para pelaku usaha kopi ini telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan di Jakarta. Namun, sebagian besar masih beroperasi secara informal dan sering kali memiliki keterbatasan akses ke permodalan, izin usaha, atau sistem digitalisasi keuangan.
”Untuk saat ini kami hanya berfokus di Jakarta terlebih dahulu. Program Kring ini adalah program proyek percontohan yang digarap berkolaborasi dengan Pemerintah Provisi DKI Jakarta dan mitra organisasi nirlaba Inotek. Tentunya dari inisiasi proyek percontohan ini, kami ingin mendapatkan sebanyak-banyaknya pembelajaran dari program Kring ini sebelum kami mengevaluasinya,” kata Anthony.
Program Kring diyakini bisa memperkuat ekosistem kopi berbasis komunitas, mendukung kewirausahaan, pelatihan keterampilan, dan inklusi ekonomi di seluruh rantai nilai kopi.
”Melalui Kring, kami bangga dapat berbagi keahlian dalam layanan pelanggan, kualitas, dan keberlanjutan untuk membantu para pelaku UMKM yang bergerak pada bidang kopi di Jakarta, dalam membangun usaha yang lebih tangguh dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” ucap Anthony.
Anthony menambahkan bahwa di ruang kopi yang semakin ramai, pedagang kaki lima (yang akrab disebut starling) semakin tertekan oleh pihak lain yang mulai merambah ke ruang tersebut. Starbucks berharap dapat membantu pelaku UMKM kopi meningkatkan usaha mereka agar dapat bersaing lebih baik di lingkungan modern, tanpa kehilangan relevansi budayanya.
”Kami benar-benar percaya bahwa ekosistem kopi akan lebih baik dengan adanya beragam penyedia layanan, termasuk komunitas starling di DKI Jakarta yang berkembang pesat di era modern ini,” tambahnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengapresiasi keterlibatan pihak ke tiga seperti Starbucks dalam upaya pemberdayaan UMKM. ”Jadi di era Pak Pram (Gubernur DKI Pramono Anung) ini kan beliau sudah memberi arahan juga untuk creative financing. Karena DKI ada keterbatasan anggaran, sementara banyak yang mau kita kerjakan. Jadi creative financing itu bisa dilakukan oleh setiap OPD (Organisasi Perangkat Daerah),” ujar Kepala Bidang Komunikasi Publik Diskominfotik (Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik) Provinsi DKI Jakarta Muhamad Shendy Adam Firdaus.
Salah satu upaya pembiayaan kreatif inilah yang dilakukan dalam kerja sama antara Starbucks bersama Yayasan Inotec dan Dinas PPKUKM ketika menghadirkan program Kring. ”Bisa saja dalam bentuk kerja sama atau CSR dari perusahaan-perusahaan swasta. Dan, saya pikir itu sudah dilakukan sama banyak OPD, termasuk juga Dinas PPKUKM,” tambah Shendy.
Shendy juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jakarta sangat berkomitmen dalam upaya mengembangkan UMKM. Program seperti Jakarta Entrepreneur (Jakpreneur), misalnya, menjadi platform kolaboratif untuk mengembangkan keterampilan dan kemandirian pelaku UMKM yang dilakukan secara berkelanjutan. Data mencatat, hingga Maret 2026, terdapat 419.389 orang yang telah mengikuti pelatihan melalui program Jakpreneur.
”Mereka yang tergabung dalam Jakpreneur mendapat berbagai fasilitas pelatihan, termasuk sampai akses kepada modal dan pemasaran,” ujarnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Data Tunggal, terdapat 1.205.836 pengusaha UMKM di Jakarta per Desember 2024. Hingga kini, Jakarta masih menjadi magnet bagi siapa pun yang ingin mencari cuan, baik di sektor formal maupun informal. Di sektor informal, berbagai peluang bisa dijumpai di Jakarta. Pelaku UMKM pun dituntut lebih kreatif, memanfaatkan peluang-peluang yang lebih terbuka dengan segmentasi pasar dan populasi yang lebih luas dibandingkan kota lain.





