PEMERINTAH Taliban resmi membebaskan Dennis Walter Coyle, 64, seorang warga negara Amerika Serikat yang telah ditahan selama lebih dari satu tahun di Afghanistan. Pembebasan ini dilakukan di tengah meningkatnya tekanan dari pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap otoritas di Kabul.
Dennis Coyle, seorang peneliti linguistik yang telah tinggal di Afghanistan sejak awal 2000-an, ditangkap pada Januari 2025. Selama masa penahanannya, pihak keluarga menyatakan Coyle ditahan dalam kondisi yang mendekati isolasi mandiri tanpa pernah didakwa melakukan kejahatan apa pun secara resmi.
Pengampunan di Hari RayaDalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Luar Negeri Afghanistan yang dikelola Taliban menyebutkan masa hukuman Coyle dianggap telah "mencukupi". Pembebasannya diberikan sebagai bentuk pengampunan dalam rangka memperingati Idul Fitri.
Baca juga : AS dan Negara Eropa Ingin Dekati Taliban Afghanistan
"Otoritas terhormat Mahkamah Agung menganggap masa pemenjaraan sebelumnya sudah cukup, dan hari ini ia telah diserahkan kepada keluarganya di Kabul," tulis pernyataan tersebut melalui unggahan di media sosial X.
Saat ditanya mengenai kondisinya sesaat setelah bebas, Coyle menjawab singkat bahwa dirinya merasa baik. Sebelumnya, pihak keluarga sempat mengkhawatirkan kesehatan Coyle mengingat usianya dan kondisi penahanan yang berat.
Komitmen Diplomasi WashingtonMenteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyambut baik kepulangan Coyle dan menegaskan komitmen pemerintah dalam memulangkan warga negara yang ditahan secara tidak adil di luar negeri.
Baca juga : Lewat Telepon, Trump-Taliban Bicara Perdamaian di Afghanistan
"Presiden Trump berkomitmen untuk mengakhiri penahanan yang tidak adil di luar negeri. Dennis bergabung dengan lebih dari 100 warga Amerika yang telah dibebaskan dalam 15 bulan terakhir di bawah masa jabatan keduanya," ujar Rubio.
Pembebasan ini juga melibatkan peran Uni Emirat Arab (UEA) sebagai mediator. Utusan khusus UEA, Saif Al Ketbi, menyatakan keberhasilan ini merupakan hasil negosiasi panjang antara Washington dan Kabul.
Tantangan yang TersisaMeski Coyle telah bebas, hubungan diplomatik antara AS dan Afghanistan masih tegang. AS belum mengakui Taliban sebagai pemerintah sah dan baru saja menetapkan Afghanistan sebagai negara sponsor penahanan yang salah (wrongful detention).
Washington mencatat masih ada setidaknya dua warga negara AS lainnya yang diyakini masih ditahan di Afghanistan, termasuk Mahmood Habibi yang hilang sejak 2022. Selain itu, AS terus mendesak informasi mengenai Paul Overby, seorang penulis yang hilang di wilayah Khost satu dekade lalu.
Pihak Taliban membantah mereka menahan warga asing demi tujuan politik, meskipun sebelumnya sempat muncul laporan mengenai usulan pertukaran tahanan dengan warga Afghanistan yang ditahan di Teluk Guantanamo. (BBC/Z-2)





