Garda Revolusi Akui Kekuatan Diraihnya dari Dukungan Publik Iran yang Luas

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Teheran: Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa dukungan masif rakyat Iran di lapangan telah memaksa pihak agresor menarik kembali ancaman serangan terhadap infrastruktur vital negara.

Kekuatan publik dinilai menjadi faktor penentu yang membuat musuh berpikir ulang untuk melakukan eskalasi lebih lanjut.

Baca Juga :

Amerika Serikat Kirim 15 Poin Rencana Damai Kepada Iran
 
Komandan Angkatan Udara IRGC, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, menyampaikan hal tersebut melalui unggahan di media sosial X pada Senin waktu setempat. Pernyataan ini muncul tak lama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik kembali ancamannya terhadap fasilitas penting Iran di tengah peringatan Teheran mengenai pembalasan yang "cepat dan keras".

"Berkali-kali musuh mundur dari ancamannya, dan itu adalah hasil nyata dari dukungan publik di jalanan untuk para pejuang di medan perang," tegas Mousavi, dikutip dari PressTV, Selasa, 24 Maret 2026.
Dampak 'Operasi True Promise-4' Mousavi merujuk pada gelombang demonstrasi massal yang menyapu seantero Iran selama tiga pekan terakhir. Aksi rakyat tersebut dilakukan untuk mendukung Operasi True Promise-4 yang sedang berlangsung, sebuah operasi militer yang diluncurkan Teheran sebagai respons atas agresi ilegal AS-Israel.

Menurutnya, kehadiran jutaan masyarakat di jalanan memberikan efisiensi psikologis dan operasional di medan tempur. Mousavi menekankan bahwa perjuangan akan terus berlanjut hingga seluruh tujuan nasional dan patriotik Iran tercapai sepenuhnya. Kehadiran publik dianggap sebagai kunci kemenangan dalam peristiwa epik berikutnya. Ultimatum 48 Jam dan Isu Negosiasi Sebelumnya, sempat memuncak saat Donald Trump menetapkan batas waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz yang strategis. Trump mengancam akan memerintahkan serangan langsung terhadap pembangkit listrik Iran jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Namun, Trump kemudian menganulir keputusannya dan menginstruksikan Pentagon untuk menangguhkan semua rencana serangan, sembari mengklaim adanya pembicaraan rahasia dengan pihak Iran.

Klaim tersebut dibantah keras oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Baqer Qalibaf. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada negosiasi apa pun yang dilakukan dengan Amerika Serikat.

Qalibaf menyebut klaim Trump sebagai "berita palsu" yang sengaja disebarkan untuk kepentingan tertentu.

"Informasi bohong semacam itu bertujuan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak dunia, serta sebagai upaya AS dan Israel untuk keluar dari kesulitan yang mereka hadapi saat ini," ujar Qalibaf. Komitmen Balasan Penuh Qalibaf menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman "penuh" yang akan menimbulkan penyesalan mendalam bagi para agresor. Ia menegaskan bahwa seluruh jajaran pejabat negara berdiri teguh di belakang bangsa dan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei, untuk mencapai target tersebut.

Agresi kriminal AS-Israel terhadap Iran diketahui bermula pada 28 Februari lalu melalui serangan udara yang menewaskan sejumlah pejabat dan komandan senior Iran. Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran secara rutin melancarkan operasi rudal dan pesawat tak berawak (drone) yang menargetkan wilayah pendudukan Israel serta pangkalan militer AS di seluruh kawasan regional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masjid Rahmat Kembang Kuning, Persinggahan Awal Sunan Ampel Sebelum Islam Disemai
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Toprak Razgatlioglu Mulai Frustrasi, Masalah Lama Yamaha Kembali Jadi Biang Kerok di MotoGP Brasil
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Agensi Umumkan Jadwal Wajib Militer Aktor Korea Kim Young Dae
• 1 jam lalubeautynesia.id
thumb
Menhan Israel Ancam Rebut Lebanon Selatan hingga Sungai Litani
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Jasa Marga: 1,7 juta kendaraan kembali ke Jabotabek H+2 Idulfitri 2026
• 16 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.