Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyatakan tengah mewaspadai dampak fluktuasi biaya logistik akibat perang Iran. Ketua Umum ALFI, Akbar Djohan, menilai proyeksi kenaikan biaya logistik akibat perubahan harga BBM perlu dihitung dengan metode atau formula tertentu.
Namun secara sederhana, ia menyebut kontribusi biaya energi, terutama BBM dalam struktur biaya logistik tergolong besar, yakni sekitar 30–40 persen, selain biaya tenaga kerja. Sehingga jika terjadi kenaikan harga BBM, maka sekitar 30–40 persen dari kenaikan tersebut akan berdampak langsung pada biaya logistik.
“Jadi kalau kenaikannya misalnya di naik seribu perak, nah kontribusi kita itu 30-40 persen daripada kenaikan tersebut. Begitu, tapi jangan lupa kenaikan BBM itu akan memicu efek domino yang lain,” kata Akbar saat dihubungi kumparan, Rabu (25/3).
Akbar melanjutkan, kenaikan tersebut akan mendorong tarif angkutan umum seperti angkot dan bus, serta meningkatkan biaya operasional pelaku usaha. Di sisi lain, pekerja juga berpotensi menuntut penyesuaian upah akibat meningkatnya biaya transportasi dan kebutuhan sehari-hari.
Ia menilai kondisi ini pada akhirnya akan berdampak pada kenaikan harga barang, karena pelaku usaha, termasuk pedagang, akan menyesuaikan harga jual seiring naiknya biaya distribusi dan bahan baku.
“Jadi menjadi efek domino yang sangat langsung dampaknya. Dan rasanya untuk disubsidi pemerintah juga akan menjadi perhitungan khusus ya,” ucap Akbar.
Kemudian, ia menilai kenaikan harga minyak global akibat perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel akan berdampak langsung terhadap biaya operasional perusahaan, mengingat perencanaan anggaran masih mengacu pada asumsi harga energi di kisaran USD 60–70 per barel. Sementara itu, harga minyak saat ini disebut telah mendekati USD 120 per barel atau hampir naik dua kali lipat.
“Itu kan lebih bahaya gitu ya, kalau barangnya ada walaupun harganya tinggi mau tidak mau dibayar, tetapi akan menimbulkan HPP (harga pokok produksi) yang tinggi,” sebut Akbar.
Namun, ia menekankan risiko yang lebih besar justru muncul apabila pasokan energi terganggu atau tidak tersedia di pasar. Katanya, selama pasokan masih ada, pelaku usaha masih dapat menyesuaikan dengan membayar harga yang lebih tinggi. Namun, jika terjadi kelangkaan, dampaknya akan jauh lebih serius terhadap aktivitas produksi dan distribusi.
“Nah ini memang harus diantisipasi jauh hari sebelumnya, ya bagaimana melakukan downstreaming komoditi-komoditi yang ada salah satunya lalu juga uplifting daripada potensi bahan bakar, minyak maupun gas yang kita miliki jauh lebih cepat,” tutur Akbar.
Trafik Logistik Meningkat hingga 50 Persen pada Lebaran 2026
Lebih lanjut, Akbar menambahkan bahwa pertumbuhan distribusi barang selama periode Lebaran 2026 diperkirakan tetap tinggi, yakni berada di kisaran lebih dari 30 hingga 50 persen, mengikuti pola pada tahun-tahun sebelumnya.
“Jadi trafiknya bisa tumbuh 50 persen, lalu volumenya juga bisa tumbuh at least 30 persen, sehingga memberikan dampak baik dari sisi trafik yang tinggi dan juga opportunity bagi perusahaan logistik,” lanjut Akbar.
Ia menambahkan, pola peningkatan arus logistik saat Lebaran merupakan fenomena yang terjadi setiap tahun. Namun, kini Akbar menyoroti adanya kecenderungan regulator yang kerap bersikap reaktif dalam mengantisipasi lonjakan mobilitas orang dan barang.
Menurutnya, dalam praktiknya sektor logistik dan distribusi barang sering kali menjadi pihak yang dikorbankan melalui kebijakan pembatasan operasional.
“Tahun ini kurang lebih 2 minggu berhentinya atau larangan pembatasan, selama lebaran 2 minggu tidak boleh beroperasi. Jadi bayangkan dalam bulan Maret ini pekerjaan daripada pengusaha logistik dan transportasi hanya bekerja setengah bulan,” jelas Akbar.
Padahal, mereka tetap memiliki kewajiban finansial seperti pembayaran gaji, tunjangan hari raya (THR), cicilan kendaraan, hingga pajak.
“Nah ini harusnya juga diperhatikan oleh pemerintah sehingga tadi harmonisasi daripada pengangkutan orang dan angkutan barang logistik yang juga men-support sebenarnya kebutuhan daripada people tadi yang mudik seharusnya berjalan harmonis,” sebut Akbar.




