Sejumlah negara di dunia mulai mengeluarkan kebijakan untuk menekan konsumsi energi di tengah krisis pasokan minyak dan gas akibat perang AS-Israel dengan Iran. Krisis energi ini disebabkan ditutupnya Selat Hormuz, jalur air penting bagi perdagangan sektor energi.
Salah satu kebijakan yang dikeluarkan negara-negara untuk menekan konsumsi energi adalah work from home (WFH). Negara mana saja yang menerapkan WFH? Berikut daftarnya:
Sri LankaPemerintah Sri Lanka memutuskan untuk menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan dan WFH guna menekan konsumsi energi. Dilansir dari The Straits Times pada Rabu (25/3), kebijakan tersebut diambil pada 16 Maret lalu oleh pemerintah setempat.
Penerapan kerja empat hari dalam sepekan dan WFH diumumkan Commissioner-General of Essential Services, Prabath Chandrakeerti, dan dimulai sejak 18 Maret lalu. Prabath menjelaskan aturan itu juga berlaku untuk sekolah dan universitas di Sri Lanka.
“Kami juga meminta sektor swasta untuk mengikuti langkah tersebut dan menetapkan setiap hari Rabu sebagai hari libur mulai sekarang,” ujarnya.
Prabath mengatakan, penerapan aturan itu tanpa batas waktu. Meski demikian, Presiden Sri Lanka Anura Kumara Dissanayake menegaskan layanan penting termasuk rumah sakit, pelabuhan, dan layanan darurat akan terus beroperasi seperti biasa.
“Kita harus bersiap menghadapi yang terburuk tetapi berharap yang terbaik,” ucap Anura.
Selain penerapan 4 hari kerja, pemerintah Sri Lanka juga menangguhkan semua upacara publik dan meminta pegawai negeri sipil untuk bekerja dari rumah jika memungkinkan guna menghemat bahan bakar minyak.
Sri Lanka juga memulai pembatasan konsumsi bahan bakar minyak dengan sistem penjatahan yang dimulai sejak 15 Maret lalu. Dengan aturan itu, setiap pengendara mobil hanya boleh menggunakan 15 liter bensin atau solar per minggu, sementara untuk transportasi umum dialokasikan bensin atau solar sebanyak 200 liter per minggu.
Para pejabat Sri Lanka juga mengatakan cadangan bensin dan solar negara itu memiliki masa ketahanan hampir enam minggu.
Thailand dan VietnamThailand dan Vietnam juga memberlakukan hal yang sama. Kedua negara tersebut pada Selasa (24/3) mendorong pegawai publik untuk bekerja dari rumah serta menerapkan langkah-langkah penghematan energi.
Otoritas Thailand menyatakan, pegawai pemerintah diminta beralih ke kerja jarak jauh atau work from anywhere (WFA) jika memungkinkan, serta mengatur suhu pendingin ruangan di kantor pemerintah pada 26 derajat Celsius guna menghemat energi.
“Pemerintah ingin semua sektor menggunakan sumber daya secara bijak dan efektif,” demikian pernyataan resmi, dikutip dari The Standard.
Pemerintah juga mengimbau para pejabat untuk menghindari perjalanan ke luar negeri. Thailand sebelumnya menyatakan telah mengamankan pasokan minyak untuk dua bulan, namun menghentikan ekspor guna menjaga cadangan. Selain itu, harga solar dibatasi di bawah 30 baht atau sekitar USD 0,94 per liter selama 15 hari.
Sementara di Vietnam, pemerintah menghapus bea masuk untuk sejumlah produk minyak impor guna mencegah kelangkaan dan menstabilkan pasar domestik.
Pemerintah Vietnam juga mendorong perusahaan untuk mengizinkan karyawan bekerja dari rumah jika memungkinkan guna menekan permintaan bahan bakar.
Selain itu, warga diimbau untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum, bersepeda, atau berbagi kendaraan (carpooling).
Namun, ribuan pengendara sepeda motor terlihat mengantre untuk membeli bahan bakar di berbagai SPBU di seluruh Vietnam pada Selasa (24/3). Harga bensin di Vietnam telah melonjak lebih dari 20 persen sejak dimulainya perang AS-Israel dengan Iran.
Sejauh ini Vietnam belum mengalami kelangkaan besar-besaran. Namun, media pemerintah melaporkan puluhan SPBU kecil terpaksa tutup sementara atau mengurangi jam operasional karena pasokan yang menipis.
Inggris Kaji Kebijakan Batas Kecepatan hingga Ganjil-GenapSementara di Inggris, Kementerian Transportasi bekerja sama dengan Kementerian Keamanan Energi dan Net Zero (DESNZ) untuk menyiapkan berbagai rencana darurat, mulai dari penurunan batas kecepatan di jalan tol hingga kemungkinan penerapan jatah pembelian bahan bakar, dikutip dari inews.co.uk.
Sumber Pemerintah Inggris mengatakan kepada The Guardian bahwa beberapa kebijakan yang paling mungkin diterapkan berada di bawah kewenangan Kementerian Transportasi, termasuk penurunan batas kecepatan hingga 10 mil per jam. Konsumsi bahan bakar diketahui lebih rendah pada kecepatan rendah, dan kebijakan ini relatif mudah diterapkan.
Saat ini, sistem rambu elektronik di Inggris sudah dapat menyesuaikan batas kecepatan di jalan utama, dan beberapa wilayah sebelumnya telah menerapkan pembatasan lebih ketat untuk mengurangi emisi, termasuk di jalan tol M6 dekat Birmingham yang dibatasi hingga 60 mph.
Inggris memiliki infrastruktur teknis untuk menerapkan kebijakan tersebut, dengan Transport for London mengoperasikan sekitar 1.500 kamera pengenal pelat nomor. Namun, juru bicara menyebut lembaga tersebut belum memiliki kewenangan hukum untuk menerapkan sistem ganjil-genap, dan kebijakan tersebut memerlukan waktu serta persiapan teknis yang signifikan.
Krisis bahan bakar dalam waktu dekat tidak diperkirakan terjadi. DESNZ menegaskan impor bahan bakar masih berjalan normal dan masyarakat diimbau tetap membeli bahan bakar seperti biasa. Lebih dari separuh impor minyak mentah Inggris berasal dari AS dan Norwegia, dan pada tahun lalu produksi kilang bahkan melebihi permintaan.
Namun, yang lebih mungkin terjadi dalam waktu dekat adalah kenaikan biaya energi secara berkelanjutan, seperti yang terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Menurut RAC, harga bensin telah naik 9 persen sejak konflik dimulai, sementara harga diesel meningkat 17 persen, menambah biaya sekitar 6,40 poundsterling untuk pengisian bensin dan 13 poundsterling untuk diesel.
Konsultan energi Cornwall Insight memperkirakan batas harga energi (price cap) yang ditetapkan Ofgem dapat naik menjadi 1.972 poundsterling per tahun pada periode Juli–September, dari sebelumnya 1.641 poundsterling pada April–Juni, atau meningkat sekitar 330 poundsterling untuk rumah tangga rata-rata.





