Zakat di Pinggiran Kebijakan: Mengapa Gagal Menjadi Penopang Ekonomi?

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Ade Wirman Syafei, Staf Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Al Azhar Indonesia, dan Mahasiswa Program Doktor Perbankan Syariah FEB Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

 

Baca Juga
  • One Way Nasional Arus Balik Resmi Dicabut dari KM 414 ke KM 70
  • Jadi Pimpinan Baru OJK, Friderica Sampai Thomas Djiwandono Resmi Disumpah di MA
  • Polri: One Way Nasional Fleksibel Ikuti Kondisi Lapangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap Idulfitri tiba, aktivitas ekonomi di Indonesia hampir selalu mengikuti pola yang berulang: konsumsi rumah tangga meningkat tajam, mobilitas masyarakat melonjak, dan sektor perdagangan mengalami lonjakan signifikan. Namun, di balik geliat tersebut, terdapat realitas lain yang kerap luput dari perhatian—harga bahan pangan cenderung naik dan tekanan terhadap daya beli kelompok berpenghasilan rendah semakin terasa.

Data Badan Pusat Statistik (2025) menunjukkan bahwa inflasi pada periode Maret hingga April 2025—yang bertepatan dengan Ramadan dan Idulfitri—terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Peningkatan harga pada komoditas pangan strategis terjadi seiring dengan lonjakan permintaan musiman, sebagaimana tercermin dalam perkembangan inflasi bulanan pada periode tersebut.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Dalam struktur ekonomi Indonesia, kelompok pengeluaran tersebut memiliki bobot signifikan, khususnya bagi rumah tangga berpendapatan rendah. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama produk domestik bruto (PDB), dengan porsi lebih dari 50 persen. Hal ini menunjukkan bahwa setiap lonjakan konsumsi tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berpotensi memperkuat tekanan distribusi yang tidak merata.

Persoalannya, peningkatan konsumsi tersebut tidak dinikmati secara merata. Kelompok menengah ke atas cenderung merasakan ekspansi kesejahteraan melalui peningkatan belanja, sementara kelompok rentan justru menghadapi penurunan daya beli akibat kenaikan harga. Dengan demikian, momentum Lebaran tidak hanya mencerminkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperlihatkan ketimpangan jangka pendek yang terus berulang.

Potensi Besar Tanpa Sistem yang Kuat

Kajian terbaru dalam keuangan sosial Islam menunjukkan bahwa zakat memiliki peran yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah. Studi empiris oleh M. Kabir Hassan, S. Aliyu, dan B. Saiti (2022) mengungkapkan bahwa distribusi zakat dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga miskin sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi mereka.

Temuan ini menegaskan bahwa zakat memiliki karakter sebagai instrumen redistribusi yang efektif. Dalam kerangka ekonomi makro, peningkatan konsumsi pada kelompok berpendapatan rendah memiliki efek pengganda yang lebih besar karena kecenderungan konsumsi marginal yang tinggi.

Namun demikian, efektivitas tersebut tidak terlepas dari kualitas pengelolaan dan tingkat kelembagaan. Penelitian oleh Aam Slamet Rusydiana (2023) menunjukkan bahwa lembaga zakat di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, khususnya dalam hal efisiensi, transparansi, dan pemanfaatan teknologi.

Permasalahan utama yang dihadapi adalah kesenjangan antara potensi dan realisasi. Laporan Badan Amil Zakat Nasional (2024) memperkirakan bahwa potensi zakat nasional mencapai lebih dari Rp300 triliun, tetapi realisasi penghimpunannya masih jauh di bawah angka tersebut. Kondisi ini mencerminkan adanya kelemahan struktural dalam sistem pengelolaan zakat.

 

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Net Eksportir LNG, Indonesia Tahan Banting Dampak Konflik Timur Tengah?
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Kapal Nelayan Karam di Pulau Salah Namo Batubara, 64 Wisatawan Diselamatkan
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Sopir BYD Penabrak Kolam Bundaran HI Wajib Ganti Rugi Kerusakan
• 2 jam laludisway.id
thumb
Kebiasaan di Pagi Hari yang Turunkan Kolesterol
• 8 jam lalubeautynesia.id
thumb
Masjid Rahmat Kembang Kuning, Persinggahan Awal Sunan Ampel Sebelum Islam Disemai
• 13 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.