Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia meluncurkan gelombang serangan udara masif dengan mengerahkan hampir 1.000 drone ke wilayah Ukraina pada Selasa, (24/03/2026). Serangan mematikan ini menewaskan sedikitnya tujuh orang saat Moskow tampak mulai meningkatkan serangan musim semi untuk mematahkan perlawanan Ukraina di sepanjang garis depan.
Pejabat Ukraina melaporkan bahwa Moskow menembakkan hampir 400 pesawat tak berawak jarak jauh dan 23 rudal jelajah semalaman. Serangan ini kemudian diikuti oleh 556 drone lainnya dalam serangan siang hari yang tidak biasa pada hari Selasa, yang menghantam kota-kota di seluruh wilayah barat negara tersebut.
Rentetan serangan ini menandai salah satu pemboman udara terbesar di Ukraina sejak dimulainya invasi skala penuh lebih dari empat tahun lalu. Salah satu drone Rusia dilaporkan menghantam biara Bernardine, sebuah gereja abad ke-16 di pusat abad pertengahan Lviv yang terdaftar di UNESCO, hingga menyebabkan kerusakan serius.
- Presiden AS Stres & Menangis Usai Serangan Militer Gagal Total
- Trump Klaim Negosiasi Damai-Iran Bantah Total, Siapa yang Bohong?
- Sukses Lobi Iran, Kapal Tanker Thailand Melenggang di Selat Hormuz
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa serangan bertubi-tubi tersebut telah menyebabkan kerusakan di 11 wilayah.
Ia kembali menyerukan kepada sekutu untuk segera memasok Kyiv dengan lebih banyak amunisi pertahanan udara karena Ukraina yang bergantung pada Amerika Serikat (AS) kini menghadapi kelangkaan pasokan akibat fokus Washington terpecah ke konflik Israel dengan Iran.
"Kami telah melakukan diskusi mendalam mengenai hasil pertemuan di Amerika Serikat. Sangat jelas bahwa saat negosiator kami melapor, Rusia meluncurkan gelombang baru drone 'shahed' ke Ukraina," kata Zelensky dikutip The Guardian.
Zelensky juga menambahkan bahwa situasi geopolitik saat ini telah menjadi lebih rumit akibat perang melawan Iran. Menurutnya, hal ini secara tidak langsung telah memberikan keberanian tambahan bagi Rusia untuk mengintensifkan serangan.
Dampak serangan ini juga merembet ke negara tetangga, di mana Moldova melaporkan jalur pipa listrik utama yang menghubungkannya ke Eropa rusak akibat serangan Rusia semalam. Pemerintah Moldova pun mendesak warganya untuk mengurangi penggunaan listrik selama jam sibuk.
Saat ini Ukraina sedang bersiap menghadapi dorongan baru Rusia setelah melewati musim dingin yang penuh dengan pemadaman listrik dan pemanas. Perang atrisi Moskow biasanya meningkat pada musim semi seiring membaiknya kondisi cuaca, dengan pasukan Rusia yang jumlahnya melebihi pasukan Ukraina sekitar tiga berbanding satu.
Pasukan Rusia terus melanjutkan kemajuan lambat di wilayah Donetsk timur selama musim dingin dan semakin mendekati kota kunci Sloviansk dari utara dan timur. Institute for the Study of War menyatakan bahwa Kremlin telah memindahkan peralatan berat dan pasukan tambahan ke garis depan pada Senin.
Analis dari Carnegie Endowment di Washington DC, Michael Kofman menilai bahwa Rusia biasanya melakukan gelombang serangan mekanis sekitar bulan April, meskipun seringkali terbukti memakan biaya besar dan tidak efektif. Ia menyebut pertahanan Ukraina telah dioptimalkan untuk mengalahkan serangan tersebut, dengan fokus pertempuran sekarang beralih pada penekanan unit drone lawan.
"Biasanya ada gelombang serangan mekanis Rusia sekitar bulan April, dan sekali lagi itu terbukti memakan biaya besar dan tidak efektif," ujar Kofman.
Meskipun demikian, Ukraina sempat mendapat dorongan di medan perang tahun ini dengan merebut kembali sekitar 150 mil persegi wilayah di Zaporizhzhia selatan. Februari menjadi bulan pertama sejak 2023 di mana Kyiv memperoleh kembali lebih banyak wilayah daripada yang hilang menurut para analis militer.
Serangan balik tersebut terbantu oleh keputusan Elon Musk pada Februari lalu untuk mematikan akses pasukan Rusia ke koneksi internet Starlink. Langkah ini secara signifikan mengganggu jalur komunikasi utama bagi pasukan Kremlin di lapangan.
Namun, posisi Ukraina tetap genting karena perhatian dunia teralihkan ke perang di Timur Tengah. Muncul kekhawatiran bahwa pencegat rudal Patriot milik AS, yang menjadi tulang punggung pertahanan udara Kyiv, dapat habis dalam waktu dekat.
Delegasi Ukraina dan AS sebenarnya telah mengadakan pembicaraan selama dua hari di Florida pada akhir pekan lalu untuk mencari jalan mengakhiri invasi Rusia, namun tidak ada terobosan yang dilaporkan. Titik buntu utama tetap berada di Donbas, wilayah yang diinginkan Moskow agar diserahkan sepenuhnya oleh Kyiv.
Laporan dari outlet Ukrainska Pravda menyebutkan bahwa AS memberikan tekanan pada Ukraina untuk menarik pasukannya dari wilayah Donetsk selama pembicaraan di Florida. Washington disebut-sebut bisa mundur dari negosiasi damai dan mengalihkan fokus lebih jauh ke operasi militer di Iran.
Menanggapi tekanan tersebut, Zelensky telah berulang kali menegaskan bahwa diskusi mengenai penarikan pasukan secara sukarela hanya mungkin dilakukan jika Ukraina terlebih dahulu menerima jaminan keamanan yang kuat dari Barat.
Di sisi lain, Kremlin yang mendapat keuntungan ekonomi tak terduga dari lonjakan harga energi global menyatakan bahwa pembicaraan antara Washington, Moskow, dan Kyiv untuk mengakhiri perang saat ini sedang dalam posisi jeda situasional karena konflik di Iran.
(luc/luc) Add as a preferred
source on Google




