JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Agama, Prof. KH. Nasaruddin Umar mengatakan Indonesia memiliki modal dasar berupa budaya maritim yang membentuk karakter masyarakat lebih terbuka dan egaliter.
Ia mencontohkan relasi antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta. Alih-alih menyebut “berseberangan”, ia memilih istilah “bertetanggaan” yang dinilai lebih mencerminkan kedekatan dan hubungan yang harmonis.
“Memilih kosa kata itu punya dampak psikologis. Bertetangga itu ada silaturahmi, bukan sekadar posisi yang berlawanan,” jelasnya.
Lebih jauh, Menag menilai masyarakat Indonesia cenderung mengedepankan principle of identity atau titik temu, dibandingkan principle of negation yang menonjolkan perbedaan.
Hal ini, menurutnya, menjadi kekuatan utama dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam konteks perbedaan penetapan awal Ramadan, Nasaruddin melihat adanya peningkatan kedewasaan masyarakat.
“Kematangan beragama itu mengecilkan arti perbedaan, tapi membesarkan arti persamaan,” tegasnya.
#menag #nasaruddinumar #indonesia
Penulis : Elisabeth-Widya-Suharini
Sumber : Kompas TV
- menag
- nasaruddin umar
- agama
- toleransi
- indonesia





