JAKARTA, KOMPAS.com – Camat Ciracas, Panangaran Ritonga, menyebut bahwa keterbatasan armada menjadi kendala utama dalam pengangkutan sampah akibat banjir dari luapan Kali Cipinang.
Ia menjelaskan, jumlah armada yang terbatas disebabkan pengangkutan difokuskan di beberapa titik pascabanjir, seperti Jalan Cipinang dan Jalan Tanjung di Kelurahan Ciracas, Jakarta Timur.
Baca juga: Banjir 1,5 Meter di Ciracas Sisakan Tumpukan Sampah di Jalan Tanjung
Selain itu, armada juga tetap digunakan untuk mengangkut sampah harian warga, sehingga kapasitas pengangkutan menjadi terbagi.
"Sebanyak 27 armada yang ada di Ciracas saat ini beroperasi. Namun, ini bukan hanya soal (pengangkutan) banjir, sampah di TPS yang rutin diangkut juga tetap harus ditangani, sehingga ada titik (angkutan) tambahan akibat banjir," ujar Ritonga saat dihubungi, Rabu (25/3/2026).
Baca juga: Banjir Ciracas Tak Kunjung Surut, Camat: Biasanya Hanya 2 Jam
Selain kendala armada, pihaknya juga menghadapi hambatan saat membuang sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang akibat pembatasan ritase.
Diketahui pembatasan dilakukan usai longsor yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Bantargebang juga kita masih dibatasin rit-nya. Tapi karena koordinasi kita dengan Pak Kasudin (LH), kita minta ditambah volume rit Kecamatan Ciracas karena kita yang terdampak banjir. Mudah-mudahan beliau bantu," jelasnya.
Adapun titik lainnya ditargetkan selesai pada Jumat.
"Jadi kita memang dari hulu dulu kita sisir, dari wilayah Cibubur, kemudian wilayah Kelapa Dua Wetan, Ciracas, dan Rambutan. Empat kelurahan ini tadi yang 13 RW tadi, sampahnya cukup banyak lah. Di setiap titik itu rata-rata kalau dikumpulin ada empat sampai lima truk," tutur Ritonga.
Sebelumnya diberitakan, sampah sisa banjir setinggi 1,5 meter pada Sabtu (21/3/2026) menumpuk di Jalan Tanjung, RT 08 RW 05, Ciracas.
Hingga Rabu (25/3/2026), sampah berupa perabot rumah tangga masih basah dan berbau, sementara warga terlihat membongkar dipan yang menumpuk untuk mengambil kayu yang masih bisa digunakan.
Sampah berasal dari pembersihan rumah warga setelah banjir surut pada Minggu (22/3/2026).
Sampah didominasi perabot rumah tangga, seperti lemari, kasur, hingga sepatu.
Pengangkutan oleh PPSU dan Satpel LH baru dilakukan Rabu pagi menggunakan mobil pikap ke TPS, karena sebelumnya terkendala antrean di lokasi pembuangan seperti TPS Kampung Rambutan dan TPST Bantargebang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




