Harga Minyak Bisa Tembus Rp2,5 Juta per Barel, Dunia Terancam Resesi!

viva.co.id
14 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – CEO BlackRock, Larry Fink, memperingatkan lonjakan harga minyak global yang berpotensi memicu resesi, jika mencapai level tinggi dan bertahan dalam waktu lama. Ia menyebut harga minyak bisa naik hingga US$150 per barel atau setara Rp2.535.000 (kurs Rp16.900). 

Menurutnya, level tersebut akan berdampak besar terhadap perekonomian global. “Kita akan mengalami resesi global,” kata Fink, sebagaimana dikutip dari Discovery Alert, Kamis, 26 Maret 2026.

Baca Juga :
Iran Ungkap Syarat Mutlak Mau Negosiasi dengan AS
AS dan Iran Disebut Bakal Berunding di Pakistan Akhir Pekan

Ia juga menambahkan bahwa risiko tersebut bisa berlangsung dalam jangka panjang apabila ketegangan geopolitik tidak mereda. “Bisa terjadi bertahun-tahun harga di atas US$100, mendekati US$150, yang memiliki implikasi besar terhadap ekonomi,” ujarnya.

Secara historis, lonjakan harga minyak yang melampaui 100 persen dari rata-rata lima tahun sering kali diikuti oleh resesi dalam waktu 12 hingga 18 bulan. Kondisi serupa pernah terjadi pada krisis minyak 1973 dan 1979, serta menjelang krisis finansial 2008 ketika harga minyak menyentuh US$147 per barel.

Kenaikan harga minyak berdampak luas ke berbagai sektor. Biaya transportasi meningkat sekitar 2–3 persen untuk setiap kenaikan US$10 harga minyak, sementara industri manufaktur seperti kimia, plastik, dan baja menghadapi kenaikan biaya produksi. Di sisi lain, daya beli masyarakat tertekan karena pengeluaran energi meningkat.

Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan biaya bahan bakar mencapai 25–35 persen dari total operasional. Selain itu, sektor logistik dan industri berat juga mengalami tekanan akibat kenaikan harga energi.

Lonjakan harga minyak juga dipicu oleh gangguan distribusi di jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur ini membuat biaya pengiriman meningkat dan memperketat pasokan global.

Analisis BlackRock menunjukkan bahwa jika harga minyak bertahan di atas US$140 selama lebih dari enam bulan, peluang terjadinya resesi global dapat meningkat signifikan.

Dampak terbesar diperkirakan akan dirasakan negara berkembang yang bergantung pada impor energi. Negara dengan ketergantungan tinggi berisiko mengalami pelemahan mata uang dan tekanan pada neraca perdagangan.

Baca Juga :
Krisis Energi, Filipina Tak Tutup Kemungkinan Setop Penerbangan
Inggris Usul KTT Khusus Bahas Keamanan Pelayaran di Selat Hormuz
Bursa Asia Kinclong Respons Klaim Trump Soal Sinyal Damai AS-Iran

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga buah di Malaysia naik akibat gangguan pengiriman di Timur Tengah
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
7 Lagu Wajib BTS & Butt Theory Jin Viral di The Tonight Show
• 1 jam lalumediaindonesia.com
thumb
MBG Jadi Sasaran Hoaks Lagi, BGN Sampaikan Klarifikasi
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Mediasi Gagal, Wardatina Mawa dan Insanul Fahmi Sempat Berdebat soal Nafkah
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Erdogan: Ini Perang Netanyahu, Tapi Dunia Kena Dampaknya
• 6 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.