EtIndonesia. Perang di Timur Tengah telah memasuki hari ke-25. Meskipun Amerika Serikat sedang melakukan negosiasi dengan Iran, strategi yang diambil tetap “bertarung sambil berunding”.
Menurut laporan terbaru dari United States Central Command (CENTCOM), sejak pecahnya perang pada 28 Februari, militer AS telah melakukan serangan presisi terhadap lebih dari 9.000 target di dalam wilayah Iran.
“Pada awal konflik, kita menyaksikan serangan besar-besaran drone dan rudal, sering kali mencapai puluhan unit. Kini, situasi itu sudah tidak terlihat lagi; serangan sekarang biasanya hanya satu atau dua unit saja. Ini menunjukkan perubahan besar dalam situasi perang. Keputusasaan mereka terlihat dari beberapa minggu terakhir, di mana mereka telah mengalihkan target dari fasilitas militer ke fasilitas sipil, dan secara sengaja melancarkan lebih dari 300 serangan terhadap target sipil,” kata Panglima CENTCOM Laksamana Brad Cooper.
CENTCOM juga merilis daftar target yang telah dihancurkan, termasuk lebih dari 140 kapal angkatan laut Iran yang ditenggelamkan serta sekitar 330 peluncur rudal balistik yang berhasil dihancurkan.
Militer AS terus menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 Spirit untuk melakukan beberapa gelombang serangan terhadap bunker rudal bawah tanah, sehingga melemahkan kemampuan Iran untuk melancarkan serangan terhadap pasukan AS.
Namun, serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz masih terus berlangsung.
Pentagon mengonfirmasi bahwa 2.500 personel Marinir telah selesai dikerahkan ke Timur Tengah. Ini merupakan pengerahan pasukan terbesar sejak Perang Irak 2003. Pentagon menegaskan bahwa jika dalam lima hari Iran masih tidak membuka kembali selat tersebut, militer AS akan meluncurkan “gelombang serangan yang lebih besar”.
Pangkalan angkatan laut Iran, basis rudal balistik, dan fasilitas industri pertahanan tetap menjadi target utama. (Hui)
Sumber : NTDTV.com





