Tyas (26) berusaha tak menghiraukan panas menyengat dan tetap berusaha ramah kepada pemudik yang mendekat ke area kerjanya di SPBU Modular Pertamina Tempat Peristirahatan Km 487 B Jalan Tol Solo-Semarang di Kecamatan Teras, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (25/3/2026). Setelah mendapat informasi jumlah pembelian bahan bakar dari Bahtiar, rekan satu timnya, sejurus kemudian ia mengarahkan nozzle ke mulut tangki bahan bakar dan mengisikan cairan Pertamax ke mobil pemudik berpelat nomor B itu.
Ketika kendaraan berikutnya tiba, Tyas berganti tugas dengan Bahtiar untuk menanyakan jumlah pembelian bahan bakar dan menawarkan air minum gratis kepada penumpang yang membeli BBM di SPBU itu. Tyas juga berkewajiban menerima pembayaran dari pembeli BBM di tempat itu.
Lebaran kali ini merupakan kali ketiga Tyas bertugas sebagai pengisi bahan bakar di SPBU tersebut. Ia bersyukur karena melalui pekerjaan musiman itu ia bisa mengantongi upah sekitar Rp 300.000 per hari.
Perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu bertugas melayani pembeli BBM di tempat itu pukul 06.00-14.00. ”Kedua anak saya sementara dititipkan ke nenek mereka,” kata Tyas.
Sebelum bertugas di tempat itu, Tyas bersama ketiga pekerja musiman pada kelompok kerjanya mendapat pelatihan selama lebih kurang satu bulan. Menurut Darmadi, kepala pengelola SPBU itu, para pekerja musiman tersebut juga belajar sebagai petugas pengisi bahan bakar melalui kegiatan magang selama sekitar seminggu di SPBU di sekitar tempat tinggal mereka.
Selama arus mudik dan arus balik Lebaran tahun ini, Darmadi bersama seluruh timnya harus bersiaga tanpa mengenal libur hingga aktivitas pemudik telah usai. Darmadi pun harus tinggal di tempat penginapan sementara di dekat tempat peristirahatan atau rest area untuk memastikan tugas timnya lancar tanpa kendala berarti.
”Setiap tiga jam kami melaporkan ketersediaan bahan bakar di tempat ini ke kantor pusat,” kata Darmadi. Selama arus balik, penggunaan bahan bakar di SPBU yang ia pimpin itu berkisar 8-11 ton per hari. Penjualan bahan bakar di tempat itu saat hari biasa hanya berkisar 2-3 ton per hari.
Tyas, Bahtiar, dan Darmadi adalah sekelumit contoh yang mewakili kelas pekerja yang harus terus bertugas saat mayoritas warga lainnya berlebaran di kampung halaman. Berbagai rest area juga didukung oleh para pekerja kebersihan yang harus memastikan area kerja mereka bersih tanpa cela.
Mereka sering kali tidak tampak pada sorotan ingar bingar kemeriahan arus mudik Lebaran. Namun, mereka memegang peranan penting agar aliran arus pemudik dapat berjalan selancar mungkin.





