DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa. Pemerintah hanya akan menerapkan work from home (WFH) dalam beberapa hari setiap pekan bagi pekerja.
Ketidakpastian global dan krisis energi sempat diwacanakan juga akan menjangkau kehidupan sekolah. Bila pekerja menerapkan WFH, pelajar diwacanakan kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Akan tetapi, rencana itu dibatalkan. Kita apresiasi pembatalan tersebut. Kini, pelajar harus tetap bersekolah secara fisik. Keputusan itu sangat tepat, karena kehadiran siswa di sekolah ialah upaya menghadang degradasi kualitas pendidikan.
Kehadiran dan aktivitas di sekolah sejatinya bukan sekadar transfer ilmu, melainkan ekosistem sosial. Mengembalikan proses belajar ke layar gawai sama saja menjerumuskan anak. Di ruang kelas, interaksi mata ke mata antara guru dan murid bisa melahirkan inspirasi. Sedangkan di layar gawai, sering kali hanya menelurkan rasa bosan.
Sebagaimana diistilahkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, bangsa Indonesia mengalami learning loss yang cukup serius akibat kekosongan pembelajaran atau pembelajaran daring yang dilakukan selama masa pandemi covid 19.
Learning loss bukan soal hilangnya jam belajar semata, melainkan juga hilangnya interaksi manusiawi yang membentuk karakter, disiplin, dan kemampuan sosial. Ditambah lagi, persoalan ketimpangan akses teknologi di berbagai daerah hingga menurunnya efektivitas penyampaian materi.
Presiden Prabowo Subianto berkali-kali menegaskan komitmen untuk peningkatan kualitas anak Indonesia. Semua itu termanifestasi dalam sejumlah program seperti makan bergizi gratis (MBG), sekolah rakyat, hingga cek kesehatan gratis.
Bangsa Indonesia memang harus bersiap melaksanakan efisiensi energi menyusul krisis di Timur Tengah. Akan tetapi, penghematan tidak boleh mengalahkan urgensi pencegahan learning loss. Penurunan kemampuan literasi dan numerasi menjadi ancaman bagi daya saing bangsa.
Sehingga, pembuatan kebijakan yang menyuburkan learning loss sejatinya sama saja merusak masa depan bangsa. Maka, langkah tegas pemerintah tetap memberlakukan pembelajaran di sekolah tentunya sangat-sangat layak diapresiasi.
Akan tetapi, kebijakan itu tentunya bukan langkah akhir. Pelaksanaan pembelajaran di sekolah hanyalah langkah awal dalam optimalisasi proses belajar dan mengajar. Jangan lagi ada metode pembelajaran yang sekadar menggugurkan kewajiban. Guru juga bukanlah cuma petugas kurikulum. Sekolah harus menjadi pusat kreativitas yang membuat siswa betah tanpa terpaku pada layar gawai.
Dunia pendidikan juga harus menyelaraskan diri dengan kondisi krisis energi global. Sekolah mesti menjaga hak anak untuk mendapat pendidikan berkualitas dan inklusif di satu sisi, menjalani prinsip hemat energi di sisi lain.
Optimalisasi belajar di sekolah adalah keniscayaan. Di tengah dunia yang serba tidak pasti saat ini, biarkan dunia pendidikan tetap memberikan secercah cahaya untuk masa depan.




