Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 2,75% ke level 7.302,12 pada penutupan perdagangan Rabu (25/3). Kenaikan ditopang aksi beli investor asing dan penguatan saham-saham berkapitalisasi besar.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 102,8 miliar pada perdagangan hari ini. Meski demikian, secara year to date (YTD), investor asing masih membukukan net sell cukup besar yakni Rp 8,4 triliun.
Lonjakan IHSG terjadi di tengah aktivitas transaksi yang cukup ramai dengan nilai perdagangan mencapai Rp25,89 triliun dan volume 36,35 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat 2,1 juta kali.
Dari sisi sektoral, penguatan indeks ditopang oleh sektor energi yang naik 5,15% dan industri yang melesat 5,98%. Sementara sektor keuangan yang memiliki bobot besar terhadap indeks naik terbatas 0,71%.
Kenaikan IHSG kali ini banyak digerakkan oleh saham-saham berkapitalisasi jumbo (big caps). Saham PT Astra International Tbk (ASII) menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 32,76 poin terhadap IHSG.
Selain itu, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyumbang 26,30 poin, diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 18,64 poin. Ada pula saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 11,84 poin.
Saham lain yang turut menopang indeks antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan kontribusi 11,23 poin. Sementara itu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar 9,43 poin.
Di sisi lain, tekanan terhadap indeks datang dari saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang menjadi laggard utama dengan penurunan 7,97% dan menggerus IHSG sebesar 11,42 poin.
Dari sisi likuiditas, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi yang paling aktif diperdagangkan dengan volume mencapai 10,05 miliar saham atau 27,65% dari total transaksi. Disusul oleh saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan volume 5,01 miliar saham dan PT ZATA dengan 2,4 miliar saham.
Sementara dari sisi nilai transaksi, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memimpin dengan nilai Rp3,53 triliun. Diikuti BBCA Rp2,20 triliun, BMRI Rp2,12 triliun, dan BBRI Rp1,41 triliun.
Aktivitas perdagangan juga tercermin dari frekuensi transaksi, di mana BUMI mencatatkan transaksi terbanyak mencapai 88.834 kali, disusul BBRI dan ZATA.
Pasar Mulai Rebound, Tapi Tekanan Asing Masih TerlihatKenaikan IHSG ini mencerminkan mulai adanya rebound setelah tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Namun, secara akumulatif, arus dana asing masih menunjukkan tren keluar dari pasar domestik.
Secara YTD, IHSG masih terkoreksi 15,55%, mencerminkan tekanan global dan sentimen eksternal yang masih membayangi pasar keuangan domestik. Meski demikian, masuknya kembali dana asing meski terbatas serta penguatan saham-saham big caps menjadi sinyal awal potensi stabilisasi pasar dalam jangka pendek.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 bisa mencapai 5,5% hingga 5,7%, ditopang konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Lebaran.
Sementara itu naiknya indeks global dipicu sentimen positif dari laporan bahwa AS telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri konflik di kawasan tersebut meningkatkan harapan terjadinya gencatan senjata..
“Adapun Iran telah menetapkan standar tinggi untuk negosiasi tersebut, termasuk jaminan internasional atas hak Iran untuk menjalankan otoritas atas Selat Hormuz,” ucap Nafan dalam analisisnya, Kamis (26/3).
Nafan menilai konflik geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah sejauh ini masih dapat diredam pemerintah dengan menjaga stabilitas subsidi energi agar gejolak harga global tidak langsung dirasakan masyarakat.



