REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengatakan telah memenangkan perang terhadap Republik Islam Iran dinilai sebagai omong kosong.
Mantan Kepala Intelijen Inggris M16 Sir Alexander William Younger mengatakan, hingga saat ini, invansi AS bersama Zionis Israel terhadap Teheran tak membuktikan kemenangan apapun di pihak agresor.
- Viral Bosnya Joget-Joget, SPPG di Bandung Barat Ditangguhkan
- Agresi Dua Sejoli AS dan Israel ke Iran, Menuju Perang Armageddon Akhir Zaman?
- IRGC Sampaikan Pesan Bahwa Palestina Tidak Sendirian
Justru sebaliknya, kata Younger, Iran menunjukkan keunggulan dalam peperangan yang sudah dipersiapkan lama dalam meladeni duo agresor Trump dan Benjamin Netanyahu si penjahat perang.
“Iran lebih unggul,” kata Younger, saat diwawancarai oleh the Economist seperti dikutip dari Ynetnews, Kamis (26/3/2026). “Saya harus mengatakan kesimpulan itu (keunggulan Iran),” ujarnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Sir Younger merupakan Kepala M16 sepanjang 2014-2020 di masa pemerintahan tiga perdana menteri di Inggris. Sepak terjangnya di dunia intelijen, asam garam atas kedalaman informasi militer AS, pun Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran.
Ada banyak faktor yang membuat Younger menarik kesimpulan bahwa Iran memecundangi AS dalam perang kali ini. Namun dari semua faktor keunggulan itu, kata Younger, paling krusial adalah sikap mental dan moralitas menghadapi peperangan ini. “AS terlalu menganggap remeh Iran,” kata Younger.
Iran, kata dia mengambil momentum krusial menghadapi agresi AS-Zionis setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Wali Agung Iran Ali Khamenei pada pembuka invansi 28 Februari 2026 lalu. “Saya tidak bersedih atas kematian Ali Khamenei. Tetapi kenyataannya, Trump (dan Zionis) menganggap remeh atas hal tersebut,” ujar Younger.
Menurut Younger, Iran memang sudah mempersiapkan diri menghadapi peperangan ini sejak Juni 2025 lalu. Tetapi, kata Younger, persiapan militer Iran itu semakin mengeras setelah AS-Zionis ‘mengambil nyawa’ Ali Khamenei.
“Yang dilakukan oleh Trump (dan Netanyahu) memperjelas bahwa bagi Iran ini adalah perang eksistensialisme. Mereka (AS-Zionis) mencoba untuk membuat Iran terpojok (tidak punya pemimpin). Tetapi itu justru memberi daya tahan yang lebih besar bagi Iran terhadap musuhnya (AS-Zionis),” ujar Younger.
Keputusan Iran membuat perhitungan atas agresi AS-Zionis, pun tak main-main. Menurut Younger, Iran membuat peperangan yang dimulai oleh AS-
Zionis ini sebagai perlawanan yang sporadis.Menurut Younger, Iran pun membuat perhitungan terhadap AS-Zionis dengan menghantam semua pihak yang turut membantu dua agresor tersebut di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Perlawanan Iran tersebut, menurut Younger memaksa perang kali ini meluas yang menciptakan krisis di kawasan dan mengancam keamanan global, namun melabel AS-Zionis sebagai biang utama peperangan.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)




