Dapat Cibiran Aparat, tetapi Didukung Warganet
Unggahannya tentan jalan rusak dan upayanya dalam swadaya bersama warganet membuat aparat tersinggung.
ASHARI PRAWIRA NEGARA
Tombolopao
Dengan material hanya berupa timbunan-sirtu, Rosmiati Ayu Bachir berupaya berbuat sesuatu demi mengurangi kecelakaan akibat jalan rusak di desanya.
Usahanya berdonasi dan menyalurkan hasil konten medsos untuk perbaikan jalan, rupanya membuat oknum aparatur pemerintah jengah. Ayu mendapatkan banyak cibiran dari masyarakat yang tak suka.
Bahkan salah seorang pejabat di salah satu desa tetangga mengkritiknya lantaran kerap mengunggah konten yang sama tiap harinya.
“Dia bilang ndak bosanko itu posting soal aspal jalan rusak terus, kalau Lebaran begini kue-kue saja,” ujar Ayu menirukan komentar dari salah satu pejabat yang dimaksud di media sosialnya.
Meski demikian, Ayu tak berkecil hati dan terus melanjutkan postingan dan pengerjaan swadaya tersebut. Apalagi ia mengaku cukup terbantu dengan masyarakat sekitar yang juga banyak mendukungnya.
Para sopir truk yang sering melewati jalur itu menjadi salah satu kelompok pertama yang ikut membantu. Mereka memahami betul betapa sulitnya melewati jalan rusak tersebut.
Sebagian menyumbangkan material. Sebagian lagi membantu mengangkut dan menurunkan timbunan. Perlahan, jumlah bantuan makin bertambah.
Dari hanya dua truk material, kini sudah puluhan truk sirtu yang diturunkan di sepanjang jalan rusak dari hasil dinasi warga dan netizen di media sosial.
Penimbunan pun dilakukan secara bertahap oleh warga, sopir truk, dan relawan yang datang membantu. Proses pengerjaan itu berlangsung selama beberapa hari tanpa henti.
“Enam hari-mi ini, Kak, berturut-turut. Enam hari-mi sampai hari ini,” kata Ayu kepada FAJAR, pekan lalu.
Bagi warga Bolaromang, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa, pemandangan itu cukup jarang terjadi. Truk datang silih berganti membawa material, sementara warga bergotong royong meratakan timbunan di sepanjang jalan.
Aksi tersebut juga kembali mengingatkan banyak orang pada awal mula viralnya konten Ayu beberapa bulan sebelumnya. Pada November 2025, Ayu pernah mengunggah foto lubang besar di jalan yang dipenuhi air hujan.
Foto itu ia ambil ketika pulang malam setelah berjualan di area turnamen sepak bola di Kanreapia. Dalam unggahan tersebut, ia menuliskan kalimat sindiran yang cukup tajam, namun dibungkus dengan humor.
“Iseng-iseng-ma di situ posting, kubilang-mi di situ buat warga Sinjai, warga Gowa dan Sinjai yang ada rencana budidaya ikan, silakan datang ke sini, sudah disediakan lahan pemerintah-ta,” ujarnya.
Unggahan itu langsung menarik perhatian warganet. Banyak yang menganggapnya sebagai sindiran terhadap kondisi jalan yang tak kunjung diperbaiki.
Ada juga yang menantangnya untuk melakukan aksi nyata, bukan sekadar mengunggah konten di media sosial.
Ayu tidak membalas komentar itu dengan perdebatan panjang.
Ia hanya menjawab dengan satu kalimat sederhana yang kemudian ia buktikan sendiri. “Saya jawab-mi, ‘Tunggu maki, kalau ada-mi hasil ngonten-ku, saya yang timbun-ki itu jalanan’,” katanya.
Kini janji itu benar-benar ia tepati. Saat ini Ayu menargetkan penimbunan jalan rusak sepanjang sekitar 1,4 kilometer dapat diselesaikan menggunakan dana donasi dan material yang sudah terkumpul.
Jika target tersebut tercapai, maka sebagian besar lubang di jalur itu setidaknya tidak lagi membahayakan kendaraan yang melintas.
Meski demikian, Ayu menyadari bahwa penimbunan bukanlah solusi permanen. Ia berharap pemerintah daerah dapat melanjutkan pembangunan jalan tersebut dengan pengaspalan yang lebih layak.
“Harapan utamanya itu supaya bisa diaspal semua, biar aksesnya enak, apalagi ini jalan penghubung kabupaten,” ujarnya.
Di tengah dunia media sosial yang sering dipenuhi sensasi, kisah Ayu memberi gambaran berbeda tentang bagaimana ruang digital bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih nyata.
Dari sebuah unggahan sederhana tentang jalan rusak, lahir sebuah gerakan kecil di kampung yang melibatkan banyak orang.
Bagi Rosmiati Ayu, semuanya berawal dari satu keputusan sederhana tidak hanya mengeluh, tetapi mencoba melakukan sesuatu.
Di Desa Bolaromang, di antara truk-truk yang datang membawa timbunan dan warga yang bergotong royong meratakan jalan, seorang content creator membuktikan bahwa sebuah konten bisa menjadi awal dari perubahan kecil bagi kampungnya sendiri. (an/zuk)





