Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menyatakan program revitalisasi sekolah yang dijalankan pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Dalam keterangannya, Qodari mengungkapkan program tersebut telah menyerap ratusan ribu tenaga kerja serta menggerakkan puluhan ribu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Data yang diterima KSP menunjukkan bahwa setiap satu sekolah rata-rata melibatkan sekitar 22 pekerja dari masyarakat setempat. Jadi ada 16 ribu titik yang bergerak dengan sekian jumlah pekerja. Secara keseluruhan, tercatat 238.131 pekerja yang terlibat dalam program ini,” ujar Qodari dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Kamis, 26 Maret 2026.
Ia menjelaskan tenaga kerja yang terlibat berasal dari berbagai sektor, mulai dari insinyur, pengawas proyek, hingga tenaga pendukung lainnya. Program ini, menurutnya, tidak hanya membangun infrastruktur fisik sekolah, tetapi juga menghidupkan ekonomi lokal di sekitar lokasi pembangunan.
Selain menyerap tenaga kerja, program revitalisasi sekolah juga menggerakkan sekitar 58 ribu UMKM di berbagai sektor, seperti penyedia bahan bangunan lokal, percetakan, hingga penyedia alat tulis.
“Program ini juga menyumbang pada pendapatan daerah melalui pajak dan konsumsi lokal,” ucap Qodari.
Qodari menegaskan program revitalisasi sekolah bertujuan memastikan seluruh anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan yang layak, aman, dan berkualitas. Selain perbaikan bangunan, program ini juga mencakup peningkatan fasilitas penunjang.
“Memastikan ruang belajar yang aman, lingkungan yang sehat, termasuk perbaikan atau pembangunan toilet, serta fasilitas pembelajaran yang optimal. Ini adalah investasi jangka panjang negara dalam membangun generasi masa depan,” kata Qodari.
Pada 2025, pemerintah awalnya menargetkan revitalisasi 10.000 sekolah. Namun, atas arahan Presiden Prabowo Subianto, target tersebut meningkat menjadi 16.167 sekolah.
Hingga 11 Maret 2026, sebanyak 16.062 sekolah telah rampung, sementara 105 sekolah lainnya masih dalam proses penyelesaian.
Untuk 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp14,1 triliun guna merevitalisasi 11.744 satuan pendidikan.
Pemerintah juga berencana menambah target hingga mencapai 60 ribu sekolah, dengan usulan tambahan anggaran sebesar Rp89,5 triliun yang saat ini masih dalam pembahasan di Kementerian Keuangan.
Qodari menegaskan perluasan program ini menjadi bukti komitmen kuat pemerintah dalam memperkuat sektor pendidikan nasional.
“Ini menunjukkan komitmen Presiden Prabowo terhadap pendidikan sangat kuat,” tutur Qodari.
Editor: Redaktur TVRINews





