Penghargaan berupa Liberty Medal ke-38 akan diberikan kepada Paus Leo XIV di Philadelphia pada 3 Juli 2026 bertepatan dengan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat. Penghargaan ini diberikan karena Paus Leo XIV mempromosikan kebebasan beragama, kebebasan nurani, dan kebebasan berekspresi di dunia—sebagaimana diberitakan oleh Vatican News, 17 Maret 2027).
Paus Leo XIV yang lahir dengan nama Robert F. Prevost di Chicago, menjadi pemimpin agama kedua yang menerima penghargaan ini, setelah Dalai Lama ke-14 pada tahun 2015. Penerima sebelumnya juga mencakup tokoh-tokoh seperti Malala Yousafzai, Ruth Bader Ginsburg, Volodymyr Zelensky, dan John Lewis, nama-nama yang identik dengan perjuangan hak asasi manusia (Cathstan.org, 17 Maret 2026).
Medali penghargaan tersebut diberikan oleh National Constitution Center (NCC), sebuah lembaga nonpartisan yang berbasis di Philadelphia, Amerika Serikat. Sejak tahun 1988, NCC menjadi penyelenggara utama Liberty Medal sejak 2006,yang diberikan kepada tokoh dunia yang memperjuangkan kebebasan.
Di tengah dunia yang dilanda konflik geopolitik dan polarisasi identitas, penghargaan ini menjadi penegasan moral bahwa kebebasan beragama adalah fondasi penting bagi perdamaian global. Pemimpin NCC, Vince Stango menyatakan bahwa Paus Leo XIV telah menegaskan dalam berbagai pernyataan resmi bahwa perdamaian tidak dapat hadir tanpat kebebasan beragama, kebebasan berpikir, dan kebebasan berekspresi.
Kebebasan beragama sering dipahami sebagai hak privat: hak seseorang untuk percaya atau tidak percaya. Namun dalam kenyataannya, kebebasan ini memiliki dimensi sosial dan politik yang luas. Ia menentukan apakah masyarakat mampu hidup berdampingan dalam damai atau justru terjebak dalam konflik identitas.
Trend Global Kebebasan BeragamaData global menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar wacana normatif. Laporan Pew Research Center (5 Maret 2024) menunjukkan bahwa dalam satu dekade terakhir, jumlah negara dengan pembatasan tinggi terhadap agama meningkat signifikan, dari 40 menjadi lebih dari 50 negara. Bahkan pada 2022, sebanyak 59 negara tercatat memiliki tingkat pembatasan tinggi atau sangat tinggi—angka tertinggi sejak pengukuran dimulai. Fakta ini menunjukkan bahwa kebebasan beragama bukan hanya terancam, tetapi sedang mengalami kemunduran global.
Dalam konteks inilah penghargaan kepada Paus Leo XIV memperoleh makna yang lebih dalam. Ia mengirimkan pesan tegas: tidak ada perdamaian tanpa kebebasan beragama, dan tidak ada kebebasan tanpa penghormatan terhadap perbedaan. Prinsip ini sejalan dengan semangat Dignitatis Humanae, dokumen Konsili Vatikan II yang menegaskan bahwa martabat manusia mengandaikan kebebasan dalam mencari dan menghidupi kebenaran.
Lebih jauh, penghargaan ini menyoroti pentingnya diplomasi moral lintas agama. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi, dialog antaragama menjadi kebutuhan mendesak. Paus, sebagai pemimpin spiritual global, memainkan peran penting dalam membangun jembatan antariman. Upaya-upaya dialog dengan pemimpin Muslim, Yahudi, dan agama-agama lain menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi sumber konflik, tetapi dapat menjadi dasar kerja sama.
Namun, penghargaan ini juga dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap meningkatnya intoleransi global. Fenomena Islamofobia, antisemitisme, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas agama menunjukkan bahwa dunia belum sepenuhnya belajar untuk hidup dalam perbedaan. Bahkan dalam masyarakat demokratis, agama sering kali dipolitisasi demi kepentingan jangka pendek.
Konteks IndonesiaIndonesia, sebagai negara yang berdiri di atas dasar Pancasila, tidak terlepas dari tantangan ini. Secara konstitusional, kebebasan beragama dijamin. Namun dalam praktik, realitasnya tidak selalu ideal.
Laporan Setara Institute mencatat bahwa kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan masih terus terjadi setiap tahun. Bentuknya beragam, mulai dari penolakan pendirian rumah ibadah, pembatasan aktivitas keagamaan, hingga intimidasi terhadap kelompok minoritas. Data ini menunjukkan bahwa toleransi di Indonesia masih menghadapi ujian serius.
Di sinilah relevansi penghargaan kepada Paus Leo XIV menjadi sangat kontekstual. Ia menjadi cermin bagi Indonesia: apakah kita sungguh-sungguh telah menghidupi nilai-nilai kebebasan beragama, ataukah masih berhenti pada tataran formal?
Dalam perspektif Zygmunt Bauman, dunia modern ditandai oleh apa yang disebut liquid modernity—sebuah kondisi di mana relasi sosial menjadi cair, rapuh, dan mudah terfragmentasi. Dalam situasi seperti ini, ketakutan terhadap "yang lain" mudah dimobilisasi, sementara identitas menjadi semakin eksklusif.
Agama, dalam konteks ini, memiliki dua wajah. Ia bisa menjadi sumber konflik ketika diperalat untuk kepentingan identitas sempit. Namun, ia juga bisa menjadi sumber solidaritas ketika dihayati sebagai panggilan untuk menghormati martabat manusia.
Penghargaan Liberty Medal kepada Paus Leo XIV menegaskan pilihan kedua. Ia menampilkan agama sebagai kekuatan etis yang mendorong dialog, bukan konfrontasi; kerja sama, bukan dominasi.
Lebih dari itu, penghargaan ini mengingatkan bahwa kebebasan beragama bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga masyarakat. Negara dapat menjamin kebebasan secara hukum, tetapi masyarakatlah yang menentukan apakah kebebasan itu benar-benar hidup dalam praktik sehari-hari.
Dalam konteks Indonesia, ini berarti bahwa toleransi tidak cukup hanya diajarkan sebagai nilai, tetapi harus dihidupi sebagai praktik sosial. Ia harus tampak dalam cara kita menerima perbedaan, dalam cara kita berbicara tentang kelompok lain, dan dalam cara kita memperlakukan mereka yang berbeda keyakinan.
Makna TerdalamMakna terdalam dari penghargaan ini bukan terletak pada sosok yang menerimanya, melainkan pada nilai yang diangkatnya. Pertama, kebebasan beragama adalah hak semua orang dan fondasi bagi perdamaian yang berkelanjutan. Ia bukan soal ritus ibadah, tetapi hak untuk hidup (jati diri sebagai manusia) sesuai dengan keyakinan terdalam. Tanpanya, masyarakat akan mudah terjebak dalam konflik identitas yang merusak.
Kedua, dialog adalah jalan, bukan kompromi. Kepemimpinan Paus Leo XIV menunjukkan bahwa menjunjung tinggi satu keyakinan tidak berarti menutup diri terhadap yang lain.
Ketiga, penghargaan terbaik adalah kesaksian hidup. Liberty Medal diberikan bukan karena pidato, tetapi atas perjalanan hidup Robert Prevost, dari Chicago ke biara, ke Peru dan akhirnya ke Vatikan, yang konsisten membela mereka yang terpinggirkan.
Bagi Indonesia, dan juga dunia, penghargaan ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita. Ia harus menjadi panggilan. Panggilan untuk membangun masyarakat yang tidak hanya toleran secara formal, tetapi juga inklusif secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam dunia yang masih bergulat dengan intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan atas nama agama, kisah Paus Leo XIV menjadi pengingat bahwa kebebasan beragama yang sejati dan utuh masih menjadi tugas peradaban yang belum selesai.
Pormadi Simbolon. Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Banten.
Simak juga Video 'Paus Leo Serukan Dialog yang Tulus Usai Perang AS-Iran Meletus':
(rdp/imk)





