Pantau - Nilai tukar rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meski sempat dibuka menguat pada perdagangan Kamis pagi, di tengah meningkatnya skeptisisme pasar terhadap peluang perdamaian antara AS dan Iran.
Pergerakan Rupiah dan Sentimen GlobalPada pembukaan perdagangan di Jakarta, rupiah menguat 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.889 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.911 per dolar AS.
Namun, analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan tersebut tidak akan bertahan lama akibat tekanan dari sentimen global.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat oleh skeptisisme akan perdamaian di Timteng. Harga minyak yang kembali naik juga membebani," ujarnya.
Pernyataan ini diperkuat oleh sikap Iran yang membantah adanya negosiasi dengan AS dan menyebut kabar tersebut sebagai upaya manipulasi pasar.
Harga Minyak dan Kebijakan Domestik Jadi Faktor TekananDi sisi lain, harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan, dengan minyak jenis West Texas Intermediate mencapai 91 dolar AS per barel dan Brent menembus 100 dolar AS per barel.
Kenaikan ini turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara itu, pemerintah disebut telah menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi krisis energi, termasuk menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3 persen.
Langkah tersebut dilakukan dengan penyesuaian anggaran, salah satunya melalui pengurangan program makan bergizi gratis.




