Pembukaan perdagangan Kamis (26/3/2026) mencatat penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.889 per dolar AS.
Namun Lukman Leong ekonom memprediksi pelemahan kurs rupiah dapat terjadi imbas dari skeptisisme terhadap perdamaian antara AS dan Iran.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat oleh skeptisisme akan perdamaian di Timteng. Harga minyak yang kembali naik juga membebani,” ungkaapnya seperti dilansir dari Antara, Kamis (26/3/2026).
Sebelumnya dikabarkan bahwa Mohammad Bagher Ghalibaf Ketua parlemen Iran membantah pihaknya tengah berunding dengan AS. Ia kemudian menyebut kabar tersebut merupakan berita palsu dari AS untuk memanipulasi pasar minyak dan finansial global.
Ghalibaf juga menyampaikan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman penuh kepada agresor.
Imbas konflik AS dengan Iran yang berkelanjutan itu juga memengaruhi harga minyak yang terus melonjak akibat penutupan Selat Hormuz sehingga menghambat ekspor minyak dunia dari negara-negara teluk.
Harga West Texas Intermediate (WTI) minyak mentah yang diproduksi di Texas, AS, sempat mencapai 91 dolar AS per barel dan Brent sempat menyentuh di atas 100 dolar AS per barel.
Di tengah kenaikan harga minyak dunia, pemerintah Indonesia digadang telah menyiapkan rencana untuk mengantisipasi krisis energi.
“Pemerintah telah menyampaikan apabila defisit akan tetap di bawah 3 persen dengan mengurangi anggaran untuk MBG (makan bergizi gratis),” kata Lukman. (ant/vve/ipg)




