El Nino Belum Tentu Bikin Produksi Pangan Seret, Asal RI Lakukan Ini

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
Foto: Seorang petani mengamati padi yang mengalami kekeringan di Desa Kramat, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu, (9/8/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian menilai fenomena El Nino ekstrem atau yang kerap disebut "Godzila" tidak serta-merta membuat produksi pangan anjlok, meski tetap membawa risiko serius bagi sektor pertanian.

"Super El Nino ini merupakan risiko serius terhadap sistem pangan kita, karena ini bukan sekadar siklus iklim biasa. Pengalaman kita kalau ada kombinasi El Nino dan IOD positif hampir selalu dampaknya itu kemarau yang lebih panjang, penurunan curah hujan signifikan, dan tekanan besar pada ketersediaan air, terutama di sentra produksi seperti di pulau Jawa," ujar Eliza kepada CNBC, Kamis (26/3/2026).

Baca: BRIN Sampai Warning, Berapa Persen Potensi Godzilla El Nino Hantam RI?

Dalam kondisi tersebut, ia mengakui sektor pertanian berpotensi mengalami perlambatan, bahkan kontraksi di sejumlah wilayah jika gagal tanamnya meningkat luas. Namun demikian, Eliza menegaskan, dampak El Nino tidak bersifat pasti dalam menekan produksi secara drastis.


"Namun perlu dicatat bahwa dampak El Nino sebenarnya nggak bersifat pasti menurunkan produksi secara drastis, tapi semua itu sangat tergantung pada kapasitas mitigasi dan respons kebijakan," ujarnya.

Ia menjelaskan, produksi masih bisa dijaga apabila penurunan luas tanam dapat dikompensasi dengan peningkatan produktivitas.

"Kalau penurunan luas tanam akibat kekeringan masih bisa dikompensasi oleh peningkatan produktivitas, jumlah produksi akan relatif tetap tidak menurun," terang dia.

Foto: Seorang petani mengamati padi yang mengalami kekeringan di Desa Kramat, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu, (9/8/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Seorang petani mengamati padi yang mengalami kekeringan di Desa Kramat, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu, (9/8/2023). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Contoh kondisi tersebut, lanjutnya, terlihat di negara lain seperti China.

"Ini terlihat pada beberapa negara seperti China, di mana saat terjadi El Nino 2023 kemarin, luas panen turun tetapi jumlah produksi tetap meningkat karena didukung sistem irigasi yang kuat, teknologi pertanian maju, serta manajemen produksi yang efisien," jelasnya.

Meski begitu, ia mengingatkan dalam konteks Indonesia, kemampuan untuk melakukan kompensasi tersebut masih terbatas.

"Masalahnya dalam konteks Indonesia, kapasitas untuk melakukan kompensasi tersebut masih terbatas," ucap dia.

Ia pun menyoroti struktur pertanian nasional yang masih bergantung pada curah hujan, serta belum meratanya dukungan teknologi.

"Sebab struktur pertanian kita masih sangat bergantung pada curah hujan, banyak lahan sawah tadah hujan, dan sistem irigasi belum sepenuhnya mampu mengantisipasi kekeringan skala besar," kata Eliza.

"Terus juga adopsi varietas tahan kekeringan dan teknologi budidaya juga belum merata, petani kita masih banyak yang pakai benih yang dilepas 20 tahun yang lalu, diperparah dengan skala pertanian yang kecil, karena mayoritas kita petani gurem luasnya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Malaysia Akan Kurangi Jatah BBM Subsidi, Terdampak Perang Iran dengan AS-Israel
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
BPBD Jatim Evakuasi Warga Terdampak Banjir Pasuruan dan Salurkan Logistik
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Stok BBM Lebaran 2026 Aman, Komisi VII DPR Puji Kinerja Pemerintah
• 4 jam lalumatamata.com
thumb
1.251 SPPG Disanksi Untuk Tegakkan Standar
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Mbappe ingin belajar banyak dari laga uji coba lawan Brasil
• 9 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.