Pemerintah Inggris tengah mengambil langkah serius terkait dampak media sosial pada anak. Saat ini, ratusan keluarga di Inggris dilibatkan dalam sebuah uji coba yang menerapkan larangan, jam malam, hingga batas waktu penggunaan aplikasi medsos.
Uji coba ini akan diterapkan langsung di rumah yang melibatkan 300 remaja. Tujuannya adalah untuk melihat secara nyata bagaimana pembatasan tersebut berdampak pada kualitas tidur anak, kehidupan keluarga, hingga kelancaran tugas sekolah mereka.
Seperti banyak negara lainnya, Inggris memang sedang gencar mempertimbangkan aturan pembatasan medsos untuk anak-anak. Pemerintah menyatakan semua opsi saat ini masih terbuka.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan Inggris akan meniru langkah berani Australia yang menerapkan larangan total bermain medsos bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Rencana ini bukan tanpa hambatan. Sejumlah pakar menilai hingga saat ini belum ada bukti kuat dan jelas bahwa pelarangan total akan benar-benar efektif. Tak sedikit pula, anak muda di London baru-baru ini secara terbuka menyatakan penolakan keras mereka terhadap rencana pembatasan tersebut.
Menanggapi dinamika ini, pemerintah Inggris berharap data dari hasil uji coba terhadap 300 remaja tersebut dapat menjadi bukti nyata. Data ini akan melengkapi hasil konsultasi publik yang telah diluncurkan awal bulan ini.
"Kami bertekad untuk memberikan masa kecil yang layak bagi generasi muda dan mempersiapkan mereka menghadapi masa depan," ujar Menteri Sains, Inovasi, dan Teknologi Inggris, Liz Kendall, mengutip Reuters.
Kendall menegaskan, uji coba langsung di lapangan adalah cara terbaik untuk mengetahui efektivitas sebuah kebijakan sebelum benar-benar disahkan.
"Inilah sebabnya kami mendengarkan masukan dari orang tua, anak-anak, dan para ahli, sekaligus menguji berbagai opsi di dunia nyata," kata Kendall.
"Uji coba ini akan memberi kami bukti yang dibutuhkan untuk mengambil langkah selanjutnya, yang diinformasikan langsung oleh pengalaman nyata keluarga-keluarga tersebut," pungkasnya.





