CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pemerintah Iran mengambil langkah strategis terkait akses pelayaran di Selat Hormuz dengan memberikan izin terbatas hanya kepada negara-negara yang dianggap sebagai mitra dekat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa sejumlah negara sahabat tetap diperbolehkan melintasi jalur vital tersebut.
"Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz," kata Araghchi dalam pernyataannya yang disiarkan oleh Al Mayadeen.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa tidak ada alasan bagi Teheran untuk memberikan akses serupa kepada pihak yang dianggap sebagai lawan. Kebijakan ini mempertegas posisi politik Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Situasi memanas sejak serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel pada akhir Februari lalu, yang menargetkan sejumlah lokasi di Iran dan menyebabkan kerusakan serta korban sipil. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan yang terus meningkat ini berdampak langsung pada stabilitas jalur distribusi energi global. Selat Hormuz, yang selama ini menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia, kini mengalami gangguan serius.
Kondisi tersebut memicu apa yang disebut sebagai blokade tidak resmi atau de facto, yang berdampak pada penurunan aktivitas ekspor energi dari negara-negara produsen di kawasan. Imbasnya, harga bahan bakar di berbagai negara mengalami kenaikan seiring terbatasnya pasokan.
Perkembangan ini menambah kekhawatiran pasar global terhadap keamanan energi, terutama jika konflik terus berlanjut dan akses di Selat Hormuz semakin dibatasi.
Sumber: Antara




