Kerupuk Khas Cirebon dan Tanda Pemudik Kembali ke Jakarta

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Warna-warni kerupuk bergantung menghiasi kios-kios bambu, di sepanjang jalan Pantura Tengah Tani, Cirebon. Barang-barang itu tak bisa diabaikan mata pengguna jalan yang melintas, sebab tampilannya begitu menarik.

Alhasil, sejumlah kendaraan mampir ke kios-kios itu. Pengemudinya turun, dan matanya langsung tertuju pada kerupuk-kerupuk yang tergantung.

Bagi para pelancong, tak lengkap jika pulang ke rantau tanpa buah tangan. Bersamaan dengan musim mudik dan arus balik, jalur arteri ini pun jadi pasar kaget.

Bahkan, pemotor dengan kerupuk tergangung di tas atau di bagian belakang motor jadi pemandangan umum di jalur arteri saat arus balik ke Jakarta. Ini bak tanda bahwa pemudik siap kembali mengadu nasib di Jakarta.

Magnet Gurih di Pinggir Jalan

Salah satu pemudik asik memilih plastik-plastik kerupuk yang tergantung itu. Salah satu yang ditemui kumparan, Ramadan Eko Saputro, sengaja mampir untuk membeli kerupuk.

Ia tengah menempuh perjalanan balik dari Tegal menuju Jakarta. Ia sengaja mampir, untuk membawa pulang sekeping rasa yang tak ditemuinya di perantauan.

"Saya beli kerupuk kulit, kerupuk jengkol, sampai kerupuk melarat juga. Di Jakarta sebenarnya ada, tapi rasanya tidak ada yang seenak dan se-autentik di sini," ujar Ramadan sambil memasukkan kantong belanjaannya ke bagasi mobil, Kamis (26/3).

Baginya, harga yang masih standar daerah menjadi alasan utama untuk memborong kerupuk-kerupuk ini, dan dibagikan kepada kerabat di Jakarta.

Fenomena ini menjadi berkah tahunan yang manis bagi para pedagang lokal. Kerupuk melarat yang digoreng dengan pasir, hingga kerupuk kulit rambak yang gurih, menjadi incaran utama.

Tak ketinggalan, terasi khas Cirebon yang aromanya tajam pun tetap laris manis diburu sebagai oleh-oleh untuk tetangga dan handai taulan.

Omzet Melambung 50 Persen

Senyum semringah tak bisa disembunyikan dari wajah Karlina, salah satu pedagang oleh-oleh di kawasan tersebut. Sejak arus balik dimulai, kiosnya tak pernah sepi dari pembeli yang datang silih berganti.

"Alhamdulillah, lagi lumayan ramai. Pemudik banyak cari kerupuk kulit kerbau, sapi, kerupuk melarat, sampai kerupuk udang," kata Karlina.

Lonjakan pembeli ini berdampak langsung pada kantong para pedagang. Karlina menyebutkan bahwa penjualannya meningkat tajam hingga 50 persen dibanding hari biasa.

Jika biasanya ia hanya mengantongi Rp1 juta hingga Rp 2 juta per hari, kini di masa arus balik, omzetnya meroket hingga Rp5 juta sampai Rp 6 juta per hari.

Tradisi yang Menghidupkan Ekonomi

Peningkatan penjualan ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan bukti bagaimana tradisi mudik mampu menggerakkan roda ekonomi akar rumput di sepanjang Jalur Pantura.

Selama arus kendaraan masih mengalir deras menuju Jakarta dan Bandung, selama itu pula "hujan" cuan akan terus membasahi para pedagang oleh-oleh di Cirebon.

Bagi para pemudik, kerupuk-kerupuk ini adalah pengobat rindu akan kampung halaman. Namun bagi pedagang seperti Karlina, setiap bungkus kerupuk yang terjual adalah harapan yang renyah di tengah padatnya arus balik Lebaran.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pantang Terpeleset! Bojan Hodak Tegaskan Konsistensi jadi Kunci Persib untuk Menjuarai BRI Super League 2025/2026
• 1 jam lalubola.com
thumb
Dubes Saudi Kecam Serangan Iran ke Negara Teluk: Sengaja Picu Permusuhan
• 2 jam laludetik.com
thumb
Ternyata Veda Ega Pratama Jadi Pembalap Tercepat Kedua di Moto3 Brasil 2026, Apa Rahasianya?
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Populer: Purbaya Perpanjang Pelaporan SPT Pajak; SPBU di Australia Kehabisan BBM
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Sempat Dilaporkan Hilang, Pria Ditemukan Tewas Terkubur 3 Meter di Cikeas
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.