FAJAR, JAKARTA – Ketegangan di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Namun, Iran mulai membuka akses terbatas di bagi kapal di Selat Hormuz. Selain Thailand, enam negara ini diperbolehkan melintas. Pertanyaannya, apakah Indonesia termasuk dalam daftar yang diizinkan melintas?
Fakta terbaru menunjukkan bahwa kapal tanker minyak asal Thailand berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah adanya koordinasi diplomatik antara pemerintah Thailand dan Iran. Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyebut keberhasilan itu terjadi usai komunikasi langsung dengan Duta Besar Iran untuk Thailand, Nasereddin Heydari.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya meminta jaminan keamanan bagi kapal-kapal Thailand yang melintas. Iran merespons dengan meminta daftar kapal yang akan melakukan pelayaran.
Keberhasilan ini terjadi hanya dua pekan setelah insiden penyerangan terhadap kapal berbendera Thailand di kawasan yang sama. Ini menandakan bahwa situasi di Selat Hormuz masih sangat dinamis.
Dalam pernyataannya kepada media pemerintah, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup sepenuhnya. Namun, hanya kapal dari negara-negara tertentu yang diizinkan melintas setelah melakukan koordinasi.
Sejumlah negara yang disebut telah mendapatkan akses antara lain China, Rusia, Pakistan, Irak, India, hingga Bangladesh. Kapal-kapal dari negara tersebut tetap dapat melintas dengan pengawasan ketat otoritas Iran.
Meski demikian, jumlah kapal yang melintasi jalur strategis ini mengalami penurunan drastis. Data menunjukkan hanya sekitar 99 kapal yang melintas sepanjang bulan ini. Jauh di bawah rata-rata normal yang mencapai 138 kapal per hari sebelum konflik.
Analisis juga menunjukkan bahwa sebagian besar pelayaran didominasi kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran atau negara yang menjalin komunikasi intensif dengan Teheran. Bahkan, beberapa kapal memilih rute tidak biasa dengan mendekati perairan Iran untuk alasan keamanan.
Iran juga menegaskan sikap tegas terhadap negara yang dianggap sebagai pihak lawan dalam konflik. Kapal-kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutu tertentu disebut tidak akan diberikan akses melintasi Selat Hormuz.
“Kami berada dalam situasi perang. Tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal musuh melintas, tetapi selat tetap terbuka bagi negara lain,” tegas Araghchi.
Bagaimana dengan Indonesia?
Hingga 26 Maret 2026, dua kapal tanker milik Indonesia dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. Keduanya adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro yang dioperasikan oleh Pertamina International Shipping.
Data pelacakan menunjukkan Pertamina Pride berada di dekat Dammam, Arab Saudi, sementara Gamsunoro terdeteksi di sekitar perairan Kuwait dan Irak.
Pihak Pertamina memastikan bahwa situasi ini tidak mengganggu pasokan energi nasional. Pjs. Sekretaris Korporat Pertamina International Shipping, Vega Pita, menegaskan bahwa keselamatan kru dan kargo tetap menjadi prioritas utama.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terus melakukan komunikasi intensif dengan otoritas Iran agar kapal Indonesia dapat segera memperoleh izin melintas.
Situasi ini menunjukkan bahwa akses di Selat Hormuz kini sangat bergantung pada hubungan diplomatik masing-masing negara dengan Iran. Bagi Indonesia, proses negosiasi masih berlangsung, sementara jalur vital distribusi energi global ini tetap berada dalam bayang-bayang konflik. (*)





