Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan Kamis (26/3/2026). Mata uang Garuda naik 7 poin ke level Rp16.904 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.895 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah ditopang oleh kombinasi sentimen domestik dan global yang relatif kondusif.
Dari dalam negeri, pemerintah belum berencana menyesuaikan atau menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat. Ia menyebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih memiliki bantalan yang cukup kuat untuk meredam gejolak harga minyak mentah global.
“APBN masih memiliki bantalan yang cukup kuat untuk menahan gejolak harga minyak mentah global saat ini,” ujarnya kepada wartawan.
Ibrahim menjelaskan, fluktuasi harga minyak dunia saat ini belum berada pada level yang membahayakan postur fiskal. Karena itu, wacana pembatasan kuota maupun kenaikan harga BBM subsidi dinilai belum menjadi prioritas kebijakan.
Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) tercatat berada di kisaran US$74 per barel, sedikit di atas asumsi makro APBN sebesar US$70 per barel. Meski demikian, selisih tersebut masih dinilai terkelola.
“Perhitungan APBN didasarkan pada rata-rata harga sepanjang tahun, bukan lonjakan sesaat,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengalaman menghadapi krisis energi global sebelumnya menunjukkan ketahanan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk pada periode 2008–2009, 2014, dan 2020.
Dari eksternal, pergerakan rupiah turut dipengaruhi sentimen pasar global yang merespons sinyal diplomatik dari Teheran. Sejumlah pejabat Iran dilaporkan tengah meninjau proposal yang didukung AS untuk meredakan konflik.
“Meskipun Iran belum secara resmi menerima rencana tersebut, mereka juga belum menolaknya secara langsung, sehingga memunculkan harapan akan potensi de-eskalasi,” kata Ibrahim.
Baca Juga: Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.997 per Dolar AS Dipicu Geopolitik Timur Tengah
Baca Juga: Pelemahan Rupiah hingga Rp17.500 Bayangi Tiga Skenario Terburuk Anggaran Negara Tahun 2026
Namun demikian, ketidakpastian masih membayangi pasar. Iran disebut masih membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington, sementara perbedaan kepentingan utama belum terselesaikan.
Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati, terutama di tengah volatilitas harga minyak global dalam beberapa pekan terakhir. Gangguan pasokan dari kawasan Teluk turut menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan harga energi dunia.





