Bisnis.com, JAKARTA - Sopir angkutan umum di Filipina melakukan mogok kerja selama dua hari sebagai bentuk protes usai pemerintah setempat mengumumkan krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) imbas perang antara Amerika Serikat-Israel vs Iran.
Bentuk protes ini terjadi setelah Presiden Filipina Ferdinand "Bongbong" Marcos Jr. meneken undang-undang penghentian sementara konsumsi minyak bumi karena harga yang terus melonjak.
Pasalnya, dalam beleid tersebut, presiden memiliki wewenang untuk menghentikan atau memotong pajak ketika harga rata-rata minyak mentah Dubai mencapai atau melebihi US$80 per barel selama sebulan.
Menurut Pemimpin Organisasi MANIBELA yang menaungi pengemudi angkutan umum, Mar Valbuena, dampak yang dirasakan para sopir adalah kerugian 1.500-1.600 peso (US$25-US$27) per hari atau sekitar Rp421.000 per hari.
“Sekarang pertanyaannya adalah dari siapa atau dari mana kami akan mengganti kerugian tersebut?” katanya dalam sidang Senat, dikutip dari Bloomberg pada Kamis (25/3/2026).
"Undang-undang yang ditandatangani Marcos tidak berarti penangguhan pajak minyak secara nyata, sehingga pemogokan berlanjut. Perjuangan berlanjut,” tulis MANIBELA di laman Facebook-nya.
Baca Juga
- Tekanan Berat Aviasi Filipina
- Filipina Darurat BBM, Purbaya Sebut RI Masih Aman Tapi Mesti Siap-siap
- Filipina Tetapkan Status Darurat Energi Nasional Imbas Krisis BBM
Diketahui, harga minyak mentah Brent meningkat hampir menyentuh US$104 per barel setelah turun lebih dari 2% pada Rabu, bersamaan dengan AS dan Iran yang saling bersitegang untuk mendapatkan kesepakatan mengakhiri perang.
Pemerintah Filipina telah memberikan solusi atas aksi mogok kerja dengan menyediakan angkutan antar-jemput gratis bagi masyarakatnya.
Selain mogok kerja, dampak lainnya adalah ditutupnya puluhan sekolah sehingga sistem belajar dilaksanakan secara daring.
Bahkan di sejumlah wilayah di Manila terjadi antrean panjang untuk mendapatkan BBM subsidi sebesar 5.000 peso.
Raphael Capinpin, Direktur eksekutif Institut Perminyakan Filipina, mengatakan pasokan bahan bakar mulai menipis dan mengakui sulitnya mendapatkan stok BBM.
"Bukan rahasia lagi bahwa sangat sulit mendapatkan pasokan saat ini, sehingga banyak pedagang yang diam-diam, terutama untuk pengiriman pada bulan Mei. Belum ada tanggapan untuk tender bulan Mei,” katanya dalam sidang Senat.
Kementerian Energi setempat telah menggelontorkan 20 miliar peso untuk meningkatkan keamanan pasokan bahan bakar negara dan menargetkan impor 2 juta barel bahan bakar guna mendukung kebutuhan domestik.
Di sisi lain, Kedutaan Besar AS di Manila telah mengimbau warganya agar menghindari daerah-daerah konflik dan mengumumkan gangguan layanan transportasi umum.





