Dua Harimau Benggala Mati, Hari Kelabu Kebun Binatang Bandung  

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

BANDUNG, KOMPAS — Seekor anak harimau benggala mati di Kebun Binatang Bandung, Kamis (26/3/2026). Total sudah dua anak harimau benggala di kebun binatang itu mati dalam tiga hari terakhir. Tata kelola kebun binatang menjadi sorotan berbagai kalangan masyarakat.

Anak harimau yang mati di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo pada Kamis (26/3/2026) bernama Huru. Sebelumnya, anak harimau lain yang bernama Hara, yang juga saudara Huru, mati pada Selasa (24/3/2026) pagi.

Dua anak harimau itu lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan harimau benggala bernama Sahrulkan dan Jelita. Hara dan Huru diduga terpapar virus Feline panleukopenia.

Virus ini umum menyerang keluarga feline, seperti harimau dan kucing. Jika terpapar, gejala utamanya adalah muntah, diare berat, lesu, demam tinggi, dan dehidrasi parah.

Kedua anak harimau benggala itu termasuk 711 satwa Bandung Zoo yang kini telah diambil alih Pemerintah Kota Bandung selaku pemilik aset. Pengawasan dan operasionalisasi kebun binatang diserahkan pada Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat sejak 5 Februari 2026.

Baca JugaAnak Harimau Benggala Mati, Biosekuriti Bandung Zoo Dipertanyakan

Eri Mildrayana dari bagian Humas BBKSDA Jabar memaparkan, Huru mati karena sakit pada Kamis pukul 07.30 WIB. Saat ini total ada 709 satwa di Bandung setelah kematian kedua anak harimau benggala itu.

Sebelumnya, terdapat enam harimau benggala di Bandung Zoo, terdiri atas empat harimau dewasa dan dua anak harimau. Setelah kematian Hara dan Huru, kini hanya tersisa empat harimau di Bandung Zoo.

”Kematian dua anak harimau ini menjadi berita duka yang kami tidak inginkan. Virus tersebut umumnya rentan menyerang anak harimau,” ungkap Eri.

Ia menyatakan, BBKSDA Jabar belum bisa menyimpulkan kedua anak harimau terpapar virus dari induknya. Sebab, pihaknya masih menantikan hasil pemeriksaan medis kedua satwa tersebut.

Pernyataan itu berbeda dengan penjelasan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang menyatakan bahwa Huru dan Hara terpapar virus sejak lahir dari induknya.

”Kami belum bisa berbicara banyak karena masih menunggu proses medis. Hasilnya akan segera kami umumkan dalam konferensi pers,” kata Eri.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengaku sangat terpukul atas kejadian tersebut. Ia menyatakan, hasil pemeriksaan para ahli menunjukkan kedua anak harimau terinfeksi virus yang dalam sepekan terakhir berkembang sangat ganas dan bersifat akut.

”Ini sangat memprihatinkan dan menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Meski panleukopenia tergolong virus yang umum, ketika menyerang kucing besar usia muda, tingkat fatalitasnya sangat tinggi,” kata Farhan, di Kebun Binatang Bandung, Kamis siang.

Farhan menegaskan, langkah cepat kini difokuskan pada penguatan sistem biosekuriti di kawasan kebun binatang. Mengingat lokasi yang berada dekat permukiman warga dan tingginya mobilitas pengunjung, pengamanan kesehatan satwa menjadi prioritas utama.

Selain itu, lanjutnya, Pemkot Bandung akan menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Kehutanan, untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola Kebun Binatang Bandung.

”Kasus kematian dua anak harimau benggala ini harus menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem pengelolaan secara total,” ujarnya.

Hari kelabu

Koordinator Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Dedi Kurniawan menilai, kematian dua anak harimau benggala menjadi salah satu hari kelabu dalam sejarah Bandung Zoo yang didirikan sejak 1933. Ia mengaku sedih dan kecewa dengan BBKSDA Jabar dan Pemkot Bandung.

Ia menilai perisitiwa ini adalah muara dari konflik manajemen yang berujung penutupan Bandung Zoo sejak 2025.  Hal itu berimbas pada kelangsungan hidup 711 satwa yang tidak bersalah dalam masalah ini.

Sebelumnya, selang sebulan setelah kelahiran dua anak harimau benggala itu, Bandung Zoo ditutup Pemkot Bandung, tepatnya pada 6 Agustus 2025.

Bandung Zoo ditutup akibat konflik pengelolaan yang melibatkan dua kubu pengurus Yayasan Margasatwa Tamansari. Akibatnya, para pekerja Bandung Zoo sampai harus mengamen dan membuka donasi untuk mengumpulkan biaya operasional Bandung Zoo.

”Dengan kematian Hara dan Huru, tata kelola kesejahteraan dan kesehatan satwa di Bandung dipertanyakan. Kami khawatir kasus kematian satwa akan terus bertambah,” tuturnya.

Baca JugaAnak Harimau Benggala Mati dalam Pusaran Konflik Bandung Zoo 

Ia menyatakan, FK3I akan menempuh berbagai cara untuk mengungkap kasus kematian Hara dan Huru secara transparan. Salah satunya menelusuri upaya penanganan kedua anak harimau ini sebelum mati.

”Kami akan meminta klarifikasi langsung ke BBKSDA Jabar terkait penanganan kesehatan satwa di Bandung Zoo. Informasi yang kami terima, Hara dan Huru telah sakit sejak Sabtu pekan lalu,” ungkapnya.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Video: Pelaporan SPT Orang Pribadi diPerpanjang hingga 31 April 2026
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pemulihan Aktivis KontraS, Andrie Yunus Diprediksi Jalani Operasi hingga 2 Tahun
• 4 jam laludisway.id
thumb
Pemulihan Korban Air Keras Andrie Yunus Butuh Waktu 2 Tahun
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kasus Penyiraman Aktivis, Kepala BAIS TNI Mundur
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Komnas HAM Sebut Pemulihan Luka Bakar Andrie Yunus Memakan Waktu Hingga 2 Tahun
• 4 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.