Harga BBM Melonjak, Dealer BYD hingga Vinfast Diserbu Konsumen

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik di Timur Tengah membuat konsumen di kawasan Asean mulai beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Chief Economist of The Asian Development Bank Albert Park mengatakan, kenaikan harga minyak dinilai mempercepat peralihan konsumen ke kendaraan listrik karena pertimbangan biaya penggunaan yang lebih efisien.

“Harga minyak yang lebih tinggi selalu membantu transisi ke kendaraan listrik. Hal itu menciptakan insentif ekonomi untuk mempercepat transisi hijau," ujar Park dikutip dari Bloomberg pada Kamis (26/3/2026).

Adapun, konsumen mulai beralih ke mobil listrik untuk menekan biaya operasional di tengah kenaikan harga BBM. Fenomena tersebut terlihat di salah satu dealer BYD di Manila, Filipina yang mencatatkan lonjakan pesanan kendaraan listrik dalam 2 pekan terakhir.

“Pelanggan mengganti unit mereka dengan kendaraan listrik karena kenaikan harga minyak,” ujar tenaga penjual BYD di Manila, Matthew Dominique Poh.

Lonjakan serupa terjadi di Hanoi, Vietnam. Pemilik showroom VinFast, Nguyen Hoang Tu Anh menyebut, kunjungan pelanggan meningkat empat kali lipat sejak konflik di Iran dimulai.

Baca Juga

  • Pasar Mobil Listrik Kian Sengit, Jaecoo Menantang Dominasi BYD
  • Prabowo Dorong Deregulasi Besar-besaran, Siapkan Ekosistem Mobil Listrik
  • Suzuki Siap Tancap Gas di Pasar Mobil Listrik, Andalkan e-Vitara

Peningkatan kunjungan tersebut mendorong penjualan 250 kendaraan listrik dalam tiga minggu. Angka tersebut setara lebih dari 80 unit per minggu atau dua kali lipat dibandingkan rata-rata penjualan pada 2025.

Meskipun data penjualan resmi belum dirilis, tanda awal menunjukkan produsen kendaraan listrik Asia seperti BYD dan VinFast mendapatkan keuntungan dari lonjakan harga minyak mentah. Dampak kenaikan harga bahan bakar juga terasa kuat di kawasan Asia Pasifik yang bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.

BloombergNEF mencatat peningkatan adopsi kendaraan listrik global membantu mengurangi konsumsi minyak sekitar 2,3 juta barel per hari pada tahun lalu. Namun, lonjakan minat terhadap mobil listrik tersebut dinilai masih menghadapi tantangan infrastruktur pengisian daya.

“Keterjangkauan harga dan pengisian daya selalu menjadi dua faktor terbesar yang menghambat adopsi kendaraan listrik. Di luar China, harga awal kendaraan listrik umumnya masih lebih mahal daripada mobil bensin,” kata Analis Bloomberg Intelligence Joanna Chen.

Di sisi lain, penetrasi kendaraan listrik di Asia sebenarnya telah meningkat bahkan sebelum konflik di Timur Tengah terjadi. China mencatat lebih dari setengah penjualan mobil berasal dari kendaraan listrik dan plug-in hybrid, sementara itu tingkat adopsi EV di Asia Tenggara mendekati 40%.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terpopuler: Alasan John Herdman Bawa Staf 7 Negara Berbeda, Nathan Tjoe-A-On Diadukan ke KNVB
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Kemenkop Akui Ribuan Kopdes Masih Berupa Rangka, Dikebut Rampung Jul
• 23 jam laludisway.id
thumb
Malaysia Pangkas Kuota BBM Subsidi Mulai 1 April, Jatah Warga 200 Liter/Bulan
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Waspada Kolesterol Naik Usai Libur Lebaran, Perhatikan Tanda-tandanya!
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Operasi Ketupat 2026 Berakhir, Polri Lanjutkan Pengamanan Melalui KRYD
• 20 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.