Drama PRT, Kisah Klasik Pengujung Lebaran

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Sudah dua hari belakangan Dwi Oktavia (34) tidak masuk bekerja meski libur Lebaran sudah usai. Ibu satu anak tersebut terpaksa “mendekam” di rumah lantaran pekerja rumah tangga atau PRT-nya tidak kunjung kembali dari kampung halaman. Tanpa PRT, Dwi kelimpungan mengurus sang anak sehingga memilih mengambil cuti sembari mencari pengganti.

Akhir libur Lebaran menjadi saat yang menegangkan bagi sebagian besar ibu rumah tangga. Menurut Dwi, pada momen tersebut PRT kerap “berulah”. Setelah masa libur usai, PRT tidak kunjung kembali bekerja. Meski bukan anggota keluarga, tetap saja pengalaman ditinggal PRT terasa menyesakkan. Di tangan merekalah roda kehidupan rumah tangga bertumpu.

Dwi, misalnya, sangat mengandalkan PRT untuk menjaga anaknya yang baru berusia 4 tahun. Sehari-hari PRT tersebut juga menumpang tinggal di rumah Dwi di kawasan Cirendeu, JakPRTa Selatan. Untuk Dwi yang merupakan orangtua tunggal, keberadaan PRT amat meringankan bebannya dalam mengurus rumah tangga.

“Di rumah saya cuma tinggal dengan anak dan PRT. Tugas dia standar, bersih-bersih rumah, masak, dan yang terpenting jaga anak. Kalau tiba-tiba berhenti kerja seperti ini saya yang repot,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).

Tidak ayal Dwi bak kehilangan sebelah jiwanya ketika menerima permohonan kerja yang begitu mendadak. Sebelum PRT tersebut izin merayakan Lebaran di kampung halamannya, Dwi sudah mewanti-wanti agar ia menepati janji untuk segera kembali saat libur usai. Akan tetapi, PRT Dwi kemudian menyampaikan terpaksa tidak bisa kembali karena mendapat tawaran pekerjaan lebih baik di suatu pabrik.

“Beginilah drama yang sering kejadian kalau Lebaran habis. Tidak cuma (PRT) saya, PRT di tempat lain juga banyak yang tiba-tiba resign setelah Lebaran,” kata Dwi.

Tahun lalu Dwi juga mengalami hal yang nyaris serupa. Bedanya, dia mengaku terpaksa memberhentikan PRT sebelum memasuki puasa. Usut punya usut, Dwi mengetahui niat sang PRT yang berencana berhenti setelah menerima uang tunjangan hari raya (THR). Mengetahui rencana PRT-nya itu, Dwi naik pitam. Dia tidak berpikir panjang lalu memberhentikannya bahkan sebelum Lebaran.

“Modusnya kebanyakan memang ingin duit THR. Jadi ketika sudah pegang duit banyak (gaji dan THR), mereka biasanya berhenti kerja. Tapi sepertinya ada juga yang enggak mau balik ke kota karena telanjur nyaman dengan kehidupan di kampung selama libur Lebaran,” ucapnya.

Baca JugaART Infal Mulai Berdatangan, Momen Kembali Mengais Rezeki

Dwi mengaku sulit mencari PRT yang benar-benar niat bekerja dengan komitmen. Selama empat tahun belakangan ini saja dia sudah memekerjakan hingga enam PRT berbeda. Kebanyakan berhenti dengan alasan mendapat pekerjaan yang lebih baik atau merasa tidak kuat mengerjakan urusan rumah tangga bersamaan dengan mengasuh anak.

Untuk sementara, Dwi terpaksa mengambil cuti demi mengurus anak dan rumah. Dia juga mengupayakan bernegosiasi dengan atasan agar diizinkan bekerja dari rumah. Di sisi lain, Dwi giat mencari PRT pengganti dengan bertanya di forum media sosial.

Dari upaya mencari PRT lewat forum media sosial itu Dwi mendapati permasalahan serupa tidak hanya menimpa dirinya. Menurut Dwi, banyak ibu rumah tangga yang juga kebingungan lantaran PRT mereka tidak kunjung kembali setelah libur Lebaran.

Dwi sengaja tidak mencari PRT pengganti lewat agensi atau penyalur karena biayanya yang relatif mahal. Selama ini Dwi memang memperkerjakan PRT setelah mendapat rekomendasi dari tetangga atau rekan kerjanya. Meski tahu PRT yang datang bukan dari penyalur bisa saja pergi sewaktu-waktu, Dwi tidak punya pilihan lain karena harus menabung untuk mempersiapkan anaknya masuk sekolah.

PRT dari penyalur biasanya memiliki kontrak dan mekanisme yang lebih jelas. Mereka juga mendapat pelatihan sebelum bekerja. Jika pun berhenti, penyalur bertanggung jawab mencarikan pengganti secepatnya. Maka dari itu komisi yang ditarik oleh penyalur dari pemberi kerja juga cukup tinggi.

“Sayang kalau uangnya dihabiskan untuk menggaji mahal PRT (dari penyalur) karena ini saya juga sedang menabung sebagai persiapan dia (anak) sekolah. Jadi ya cuma bisa berharap dapat PRT dengan harga wajar dan punya komitmen,” katanya.

Membangun kemandirian

Drama kehilangan PRT di pengujung Lebaran bukanlah hal baru. Hal ini telah lama terjadi dan senantiasa berulang ketika libur panjang Idul Fitri berakhir.

Psikolog Klinis Senior sekaligus Direktur Personal Growth Counseling and Development Center, Ratih Ibrahim, berpendapat, tingkat ketergantungan masyarakat terhadap bantuan PRT di kota-kota besar tergolong tinggi. Kesibukan pekerjaan membuat peran PRT di JakPRTa, misalnya, begitu strategis.

“Penting kiranya bagi kita untuk membangun kemandirian. Zaman sekarang sudah ada beberapa teknologi yang dapat memudahkan hidup. Jadi, jika PRT pergi, setidaknya kita bisa memanfaatkan teknologi itu untuk membantu,” kata Ratih.

Baca JugaRumah Tangga Pincang Ditinggal PRT Mudik

Ratih merujuk pada kebiasaan warga di luar negeri yang memaksimalkan teknologi seperti halnya robot yang bisa membantu pekerjaan rumah tangga hingga jasa penatu. Untuk mereka yang membutuhkan pengasuh anak, saat ini tersedia berbagai macam layanan day care. Hal itu lantaran sumber daya yang dibutuhkan untuk memperkerjakan PRT cukup besar.

Kemudahan-kemudahan seperti itu bisa dicoba sembari menunggu PRT pengganti tiba. Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada PRT perlu diimbangi dengan adaptasi terhadap solusi alternatif yang lebih mandiri dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jusuf Kalla Kunjungi Negara ASEAN, Bantah Isu ke Teheran
• 14 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Minyak Mentah Rusia Tiba di Filipina, Bantu Atasi Darurat Energi
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Cara Mengatasi Tidak Bisa Jawab saat Wawancara Kerja
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Komnas HAM dalami dampak medis-psikologis korban penyiraman aktivis
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
China rilis 10 kemajuan ilmiah teratas nasional 2025
• 21 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.