FAJAR, MAKASSAR– Pemerataan pendidikan di Sulawesi Selatan (Sulsel) perlu digenjot dengan ketersediaan tenaga pendidik yang memadai. Redistribusi guru ke daerah 3 T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) bakal dilakukan.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel melalui Dinas Pendidikan bakal mendistribusikan ulang para guru ke daerah 3T.
Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Iqbal Nadjamuddin mengatakan, beberapa daerah di Sulsel masih kesulitan dalam akses pendidikan layak terutama ketersediaan guru yang berkualitas. Misalnya, di daerah Seko, Luwu Utara, daerah kepulauan di Pangkep, pedalaman dan pegunungan Jeneponto, hingga di Kepulauan Selayar.
“Mungkin ada di dataran tinggi di Kabupaten Bone, ada juga di dataran tinggi Kabupaten Pangkep. Hal-hal itu yang masuk dalam daerah 3T sebenarnya,” ujar Iqbal, Rabu, 25 Maret.
Iqbal mengaku saat ini pihaknya tengah memetakan pendistribusian ulang guru-guru sesuai kebutuhan sekolah di 3T. Apalagi, saat ini masih banyak guru PPPK yang masih menumpuk di sekolah yang kelebihan guru. Distribusi ulang juga dimaksudkan bagi para guru yang selama ini ditempatkan terlalu jauh dari daerah domisilinya.
“Karena banyak hal di PPPK ini memang mau kita distribusi ulang. Karena itu tadi banyak penempatan-penempatan yang mereka berharap itu memang ditempatkan di sekolah asalnya. Ada yang orang Toraja, mengajar di daerah misalnya Kabupaten Jeneponto. Itu yang kita sekarang mau distribusi ulang. Dan itu sudah kita masukkan ke BKD,” bebernya.
Distribusi guru akan berdasarkan pada sekolah atau kabupaten/kota terdekat dari domisilinya. Ia menargetkan distribusi guru berlangsung sebelum tahun ajaran baru nantinya.
“Ini juga mengantisipasi, karena banyak juga guru yang memang jarang ada yang mau mengajar di tempat-tempat yang jauh. Makanya mekanisme-mekanisme itu yang nanti kita lakukan ke depan. Bagaimana supaya semua harus bersekolah dengan kekurangan yang ada di wilayah-wilayah itu,” tukasnya.
Kepala BKD Sulsel Erwin Sodding menjelaskan mapping terhadap distribusi guru sudah mulai dilakukan. Dengan harapan pemerataan guru terwujud di setiap sekolah.
Ia menyebut bahwa saat ini masih banyak sekolah yang kelebihan guru pada mata pelajaran (mapel) tertentu. Sementara di sisi lain ada juga sekolah yang kekurangan guru mapel tertentu.
“Nah itu kan mau kita mapping minimal misalnya yang dari Bantaeng siapa tahu bisa ke Bulukumba atau Jeneponto, kabupaten tetangga, jadi kalaupun dia mesti keluar dari domisili tidak terlalu jauh, jadi tetap bisa efektif pembelajarannya,” terang Erwin.
Erwin menyebut bahwa ada juga guru yang memang memiliki niat untuk mengajar di daerah 3T. Mereka akan menjadi prioritas untuk pemetaan distribusi guru yang akan mengabdi di 3T.
“Tapi kita juga berharap tidak ada guru yang ditempatkan jauh dari domisili, pun misalnya paling jauh itu daerah tetangga, yang Soppeng misalnya mengajar di Wajo, yang di Wajo mengajar di Soppeng, itu pun kita lihat dekat dengan perbatasan, itu mi kita butuh waktu untuk mapping,” tandas Erwin. (edo-uca)





