Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran kini memohon untuk mencapai kesepakatan damai setelah gelombang serangan militer intensif yang dilancarkan Washington sejak 28 Februari 2026.
Dalam pernyataannya pada rapat kabinet di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa operasi militer AS telah menghancurkan kemampuan pertahanan Iran pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia menyebut angkatan laut dan udara Iran telah “dihancurkan sepenuhnya”, sementara sekitar 90% peluncur rudal serta lebih dari 90% persenjataan rudal negara tersebut telah dilumpuhkan.
“Sekarang mereka ingin membuat kesepakatan. Mereka negosiator hebat, tapi petarung yang buruk,” ujar Trump, seperti dikutip dari BBC, Kamis (26/3/2026).
Pernyataan itu diperkuat oleh utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff yang mengonfirmasi bahwa Washington telah mengirimkan kerangka proposal damai kepada Teheran.
Dokumen tersebut berisi 15 poin rencana aksi yang disebut menjadi dasar potensi kesepakatan penghentian konflik.
Baca Juga
- Kunjungan Trump ke China Mundur 14-15 Mei Gara-gara Perang Iran
- Transaksi Jumbo Warnai Gerak Harga Minyak Usai Komentar Trump soal Serangan ke Iran
- Bitcoin Tersengat Aksi Trump
Menurut Witkoff, proposal tersebut disalurkan melalui pemerintah Pakistan. Namun, ia menegaskan bahwa rincian isi dokumen tidak akan diungkap ke publik dan proses negosiasi tidak akan dilakukan melalui media.
“Kami akan melihat ke mana arah ini berkembang, dan apakah kami bisa meyakinkan Iran bahwa ini adalah titik balik tanpa alternatif yang baik selain lebih banyak kematian dan kehancuran,” ujarnya.
Meski demikian, klaim Trump bahwa Iran siap berunding berbanding terbalik dengan pernyataan pejabat Teheran yang menegaskan tidak sedang melakukan negosiasi dengan AS.
Bahkan, Iran dilaporkan telah menolak proposal damai Washington yang mencakup tuntutan penghentian program nuklir dan pembatasan rudal balistik.
Trump juga kembali melontarkan ancaman bahwa AS akan terus meningkatkan serangan jika Iran tidak segera duduk di meja perundingan. Ia menyebut langkah militer lanjutan sebagai konsekuensi yang tidak terhindarkan apabila gencatan senjata gagal dicapai.
“Jika tidak, kami akan menjadi mimpi buruk terburuk mereka. Kami akan terus menghantam mereka tanpa hambatan,” tegasnya.





