Terkini, Makassar – Ajang Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) kembali menunjukkan perannya bukan hanya sebagai forum silaturahmi saudagar Bugis Makassar, tetapi juga sebagai ruang lahirnya gagasan kolaborasi antara dunia pendidikan, bisnis, dan industri untuk mencetak generasi entrepreneur masa depan.
Rektor Institut Teknologi Bisnis Sarumpalaka Bone, Dr. Rabiatul Adawiyah Hamid, menilai PSBM memiliki kekuatan besar dalam membangun jaringan dan kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, kolaborasi antara akademisi dan pelaku usaha menjadi kunci dalam menciptakan generasi muda yang mandiri secara ekonomi dan mampu membuka lapangan kerja.
Ia menegaskan bahwa pendidikan saat ini harus mampu mengubah pola pikir generasi muda agar tidak hanya bercita-cita menjadi pegawai negeri atau pejabat, tetapi juga menjadi pengusaha dan inovator bisnis.
Perguruan tinggi, kata dia, harus hadir sebagai pencetak wirausaha, bukan hanya pencetak pencari kerja.
“Kami di Institut Teknologi Bisnis Sarumpalaka memiliki program studi bisnis digital dan kewirausahaan. Harapannya, anak-anak kita tidak harus jadi PNS atau pejabat, minimal mereka punya usaha dan bisa menjadi entrepreneur,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia memiliki banyak potensi komoditas lokal yang bisa mendunia jika dikelola dengan kolaborasi yang baik antara dunia pendidikan, pelaku usaha, dan industri.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah komoditas kopi yang memiliki peluang besar di pasar global jika dikelola dari hulu hingga hilir secara bersama.
“Bagaimana bisnis kopi itu bisa mendunia. Kita harus mulai dari menanam dulu, setelah menanam kita kolaborasi di dunia bisnis dan industri,” katanya.
Dalam momentum PSBM ini, pihaknya juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan berbagai pihak untuk mengembangkan pendidikan berbasis digital dan kewirausahaan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan usaha sendiri dan membuka lapangan kerja baru.
“Kami sudah sampaikan ke Ketua Satgas, kami akan kolaborasi karena kami punya digital dan kewirausahaan. Akademisi tentu sangat mendukung kolaborasi ini,” jelasnya.
Ia juga menilai PSBM menjadi ajang yang sangat penting karena mempertemukan saudagar dan tokoh Bugis Makassar dari berbagai daerah bahkan luar negeri.
Pertemuan tersebut memperkuat jaringan, silaturahmi, serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas di bidang bisnis, pendidikan, dan industri.
“Ada yang datang dari Belanda, Timor Leste, dan berbagai daerah. Ini jaringan yang sangat kuat untuk kolaborasi, bukan hanya bisnis tapi juga pendidikan dan industri,” ungkapnya.
Ia berharap PSBM ke depan tidak hanya menjadi ajang pertemuan tahunan, tetapi juga menjadi pusat kolaborasi ekonomi, pendidikan, dan kewirausahaan yang mampu mendorong kemajuan ekonomi masyarakat serta melahirkan lebih banyak pengusaha muda dari Indonesia, khususnya dari Sulawesi Selatan.
“Harapan ke depan, kolaborasi dan kerja sama semakin ditingkatkan. Bagaimana kita bersama-sama meningkatkan masyarakat kita dan terus menjalin silaturahmi,” tutupnya.



