JAKARTA, KOMPAS.com - Lebaran di Indonesia bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan fenomena sosial berskala besar yang menggerakkan jutaan orang secara bersamaan.
Mudik, berbagi, hingga menunjukkan pencapaian hidup menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi tahunan ini.
Namun, di balik euforia tersebut, tersimpan konsekuensi panjang yang baru terasa ketika semua usai: kelelahan fisik, tekanan finansial, hingga penurunan motivasi kerja.
Sosiolog Sigit Rochadi menilai, Lebaran merupakan satu-satunya momentum di Indonesia yang mampu memobilisasi sumber daya manusia dalam skala sangat besar, bahkan melampaui negara-negara lain dengan mayoritas Muslim.
“Di negara kita, tidak ada hari raya yang mampu memobilisasi jutaan warga, mengerahkan sumber daya, disiapkan jauh-jauh hari, ditunggu detik-detik kedatangannya, selain Lebaran,” ujar Sigit saat dihubungi Kompas.com, Rabu (25/3/2026).
Fenomena ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga soal tekanan sosial yang terakumulasi.
Lebaran menjadi ajang individu menunjukkan eksistensi di kampung halaman, baik melalui penampilan, gaya hidup, maupun kemampuan berbagi.
Akibatnya, banyak orang rela mengeluarkan biaya besar, bahkan di luar kemampuan finansialnya.
“Seakan di momen ini apa yang dikumpulkan dalam beberapa bulan sebelumnya dihabiskan, entah untuk dibagikan atau dibelanjakan,” kata Sigit.
Baca juga: Dari Bahagia ke Hampa: Post-Holiday Blues Pekerja Usai Libur Lebaran
Beban Sosial, Ekonomi, dan Psikologis BertumpukSelepas Lebaran, dampak dari pengeluaran besar dan aktivitas intens tersebut mulai terasa.
Pekerja, khususnya kelas menengah, harus menghadapi beban berlapis: sosial, ekonomi, dan psikologis.
Beban sosial muncul dari dorongan untuk mempertahankan citra diri di hadapan keluarga dan lingkungan. Standar ini tidak selalu realistis, namun tetap dijalani demi menjaga gengsi.
Sementara itu, beban ekonomi timbul dari terkurasnya tabungan. Tidak sedikit yang bahkan harus berutang demi memenuhi kebutuhan Lebaran, mulai dari biaya mudik hingga tradisi berbagi.
“Pulang dari Lebaran bukan hanya kelelahan fisik, tetapi juga kantong yang menipis, bahkan ada yang harus membayar pinjaman,” ujar Sigit.
Beban psikologis muncul ketika pekerja harus segera kembali ke rutinitas kerja yang padat. Tekanan untuk kembali produktif muncul di tengah kondisi fisik dan mental yang belum sepenuhnya pulih.
Bagi pekerja kontrak dan musiman, tekanan ini bahkan lebih berat. Selain harus beradaptasi kembali, mereka juga menghadapi ketidakpastian pekerjaan.
“Sampai di kota terasa hampa, mereka dihadapkan pada kondisi untuk mendapatkan pekerjaan,” kata Sigit.
Baca juga: Halalbihalal di Kantor, Momen Hangat atau Sekadar Formalitas?
Pengamat ketenagakerjaan Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan, fenomena pasca-Lebaran juga tidak lepas dari demonstration effect atau efek demonstrasi.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/4014078/original/021637600_1651678779-IMG_20220504_22225106.jpg)


