Kinerja dua emiten unggas, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), diperkirakan mencatatkan hasil yang solid.
IDXChannel - Kinerja dua emiten unggas, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), diperkirakan mencatatkan hasil kuat pada kuartal I-2026, ditopang stabilnya margin pakan serta kenaikan harga ayam broiler.
Dalam riset yang terbit pada 25 Maret 2026, Indo Premier Sekuritas menilai margin pakan cenderung stabil secara kuartalan seiring biaya bahan baku yang relatif terkendali.
Harga jagung rata-rata pada kuartal I-2026 diperkirakan turun 3,8 persen secara kuartalan karena masuk musim panen Februari-April, sehingga pasokan domestik meningkat. Di sisi lain, harga bungkil kedelai (SBM) naik 2,7 persen akibat turunnya produksi global dari Brasil dan Argentina.
Meski demikian, kenaikan harga SBM diperkirakan dapat sepenuhnya diimbangi oleh turunnya harga jagung, sehingga harga jual pakan tetap stabil.
Indo Premier memperkirakan EBIT pakan CPIN dan JPFA masing-masing mencapai sekitar Rp1,1 triliun dan Rp0,9 triliun dengan margin yang tetap stabil secara kuartalan.
Kinerja kuartal I-2026 juga diperkirakan ditopang kuatnya harga ayam broiler.
Harga broiler rata-rata naik 3,8 persen secara kuartalan menjadi Rp22.400 per kilogram, didorong percepatan penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkat dari 53,8 juta pada Desember 2025 menjadi 60,2 juta pada Februari 2026, serta kuota impor Grand Parent Stock (GPS) yang lebih rendah pada 2024-2025.
Sementara itu, harga DOC turun 1,9 persen secara kuartalan menjadi Rp7.300 per ekor, yang turut menurunkan titik impas produksi broiler kedua emiten. Indo Premier memperkirakan EBIT broiler CPIN mencapai Rp2,3 triliun dan JPFA Rp1 triliun, dengan margin masing-masing sekitar 18,3 persen dan 12 persen.
Secara keseluruhan, laba JPFA pada kuartal I-2026 diproyeksikan mencapai Rp1,5 triliun, turun 4,7 persen secara kuartalan namun melonjak 123,2 persen secara tahunan. Angka tersebut setara 37,5 persen dari konsensus, lebih tinggi dari rata-rata tiga tahun sebesar 31 persen.
Kemudian, laba CPIN diperkirakan mencapai Rp2,7 triliun, naik 17,2 persen secara kuartalan dan 73,8 persen secara tahunan, atau setara 54,4 persen dari konsensus, jauh di atas rata-rata tiga tahun sebesar 32,9 persen.
Ke depan, Indo Premier menilai harga broiler masih berpotensi tetap kuat hingga kuartal II-2026 dan seterusnya.
Pemerintah menegaskan komitmennya mempertahankan anggaran program MBG pada 2026, yang diperkirakan menambah permintaan broiler sekitar 3,2 persen.
Indo Premier Sekuritas pun mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor unggas, dengan valuasi CPIN dan JPFA yang dinilai sudah cukup murah di level 10,8 kali dan 6,5 kali forward price-to earnings (PE) ratio 12 bulan. Valuasi tersebut mencerminkan risiko penurunan yang terbatas di tengah perbaikan dinamika pasokan dan permintaan. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





