EtIndonesia. Perang Rusia-Ukraina kembali memanas seiring dengan membaiknya cuaca. Pada Rabu (25 Maret), pasukan Rusia melancarkan gelombang baru ofensif musim semi yang menargetkan kota-kota dalam “sabuk benteng” pertahanan Ukraina. Namun, pasukan Ukraina tidak tinggal diam—mereka tidak hanya berhasil menembus beberapa garis depan dan merebut kembali wilayah, tetapi juga menyerang jauh ke belakang garis musuh, menghantam jalur logistik dan gudang amunisi Rusia.
Pada Rabu, kota terbesar kedua di Ukraina, Kharkiv, diserang drone Rusia, menyebabkan sembilan orang terluka.
Seorang anggota keluarga korban, Sharamova, mengatakan: “Kami sangat terkejut, karena rumah kami hancur dan mengalami kerusakan parah.”
Dalam 48 jam terakhir, Rusia meluncurkan hampir seribu drone dan berbagai jenis rudal ke seluruh wilayah Ukraina. Di kota barat Lviv, Gereja Santo Andreas yang bersejarah terkena serangan dan terbakar hebat.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan: “Skala serangan ini dengan jelas menunjukkan bahwa Rusia sama sekali tidak memiliki niat nyata untuk mengakhiri perang ini.”
Militer Ukraina menyebutkan bahwa serangan besar-besaran ini terjadi bersamaan dengan dimulainya ofensif musim semi baru Rusia di wilayah timur Ukraina. Memanfaatkan cuaca yang lebih hangat, Rusia meningkatkan serangan terhadap “sabuk benteng” pertahanan Ukraina, berusaha mengepung kota strategis Pokrovsk dengan menggunakan bom luncur berat dan pasukan lapis baja.
Secara keseluruhan, Rusia saat ini menerapkan taktik tekanan multi-front, mencoba menggoyahkan beberapa garis pertahanan sekaligus.
Sementara itu, pasukan Ukraina berhasil mencapai terobosan terbatas di arah selatan, tepatnya di wilayah Zaporizhzhia, dan dilaporkan telah merebut kembali sekitar 400 kilometer persegi wilayah di beberapa zona pertempuran.
Seiring dengan perkembangan konflik di Iran belakangan ini, upaya perundingan antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina tampaknya mengalami kebuntuan.
Para pengamat memperkirakan bahwa dalam jangka pendek, perang Rusia-Ukraina kemungkinan akan terus berlangsung dalam kondisi buntu tanpa perubahan yang menentukan.
Laporan disusun oleh reporter NTD, Yi Jing.





