Pertemuan Saudagar Bugis Makassar XXVI tak sekadar momen halal bihalal dan temu kangen para perantau asal Sulsel. Ajang ini juga menjadi tempat curhat, berbagi cerita sukses, hingga membuka peluang kerja sama.
Pertemuan ini berlangsung di Makassar, Kamis (26/3/2026). Ratusan saudagar dan tujuh gubernur tampak hadir. Selain Gubernur Sulawesi Selatan A Sudirman Sulaiman, enam gubernur lain yang memiliki keterikatan dengan Sulsel juga turut hadir.
Enam gubernur tersebut adalah Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, dan Gubernur Sulawesi Tenggara A Sumangerukka. Dua gubernur lainnya dari Kalimantan, masing-masing Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud dan Gubernur Kalimantan Utara Zainal A Paliwang. Ada pula Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo. Turut hadir bupati dan wali kota dari sejumlah daerah. Mereka hadir karena memiliki keterikatan, di antaranya karena memiliki orangtua hingga kakek/nenek asal Sulsel.
Dalam sesi pemaparan, para gubernur memaparkan potensi daerahnya sekaligus menjelaskan kebutuhan yang belum mampu disediakan secara lokal. Sherly Tjoanda menceritakan daerah yang dipimpinnya memiliki pertumbuhan ekonomi di atas 30 persen, tetapi bukan berarti semua baik-baik saja. Dia mengeluhkan sulitnya memenuhi sejumlah kebutuhan pangan penting, seperti ayam, telur, dan lainnya.
Sejumlah potensi lain seperti kelapa dalam dan perikanan, juga belum bisa maksimal dikelola pengusaha setempat. Karena itu, dia butuh sentuhan tangan pengusaha dari luar.
”Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara 34 persen, tertinggi se-Indonesia. Kenapa? Karena hilirisasi dari nikel. Maluku Utara memproduksi nikel lebih kurang 50 persen dari nikel Indonesia atau sekitar 20 persen dari nikel dunia. Pertumbuhannya itu tidak inklusif, tidak ada pemerataan. Kenapa? Karena SDM, pertanian, peternakan, perikanan di Maluku Utara itu belum mampu swasembada,” katanya.
Dia menyebut hal ini disebabkan infrastruktur yang belum siap. Akibatnya, 80 persen dari seluruh kebutuhan di Maluku Utara masih dipenuhi dari luar daerah. Kebanyakan dipasok dari wilayah Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.
”Oleh karena itu, saya hadir di sini sebagai Gubernur Maluku Utara, mengundang para saudagar-saudagar Bugis yang ada di sini yang mungkin punya kompetensi, misalnya untuk usaha telur, ayam, pelayaran, supply chain, logistik untuk bisa masuk melihat potensi yang ada di Maluku Utara,” katanya.
Sebagai contoh, kata dia, Maluku Utara yang berpenduduk sekitar 1,4 juta jiwa itu memiliki kebutuhan ayam sekitar 25.000 ton per tahun. Dengan harga sekitar Rp 40.000 per kilogram, potensi nilai ekonominya hampir Rp 1 triliun. Di Maluku Utara saat ini harga ayam berkisar Rp 50.000 sampai Rp 55.000 per kg. Harganya terbilang mahal karena biaya logistik yang cukup tinggi.
”Peluang untuk bikin peternakan ayam di Maluku Utara masih sangat tinggi. Begitu pun dengan telur,” ujarnya.
Ia lalu menjabarkan dengan asumsi satu penduduk makan satu telur sehari, terhitung kebutuhannya mencapai 400.000 ton telur per tahun. Dengan harga Rp 2.000 per butir, potensi ekonominya Rp 800 miliar.
Hal sama terjadi dengan potensi tuna. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Utara, potensi perikanan sekitar Rp 14 triliun yang sampai hari ini baru dimanfaatkan sekitar 20 persen karena kurangnya armada tangkap. Daerahnya juga masih kurang investor. Kelegkapan fasilitas pendingin dan pemrosesan juga masih minim.
Dia berharap kehadiran saudagar atau pengusaha bisa mendorong kemandirian dan swasembada di Maluku Utara. Jika ini terjadi, kebutuhan di Maluku Utara bisa dipenuhi dari dalam.
Hal serupa dikatakan Gubernur Sulawesi Utara yang memaparkan potensi tuna dan beragam komoditas perkebunan di daerahnya. Potensi sumber daya kelautan dan perkebunan di sana masih berpeluang dikembangkan lebih luas.
Dalam pertemuan ini ada harapan agar pada pengusaha atau saudagar bisa menangkap peluang-peluang yang masih terbuka di sejumlah daerah. Jika peluang ditangkap, hal itu akan berefek pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Warga Sulsel selama ini memang sudah dikenal sebagai perantau. Tak heran diaspora Sulsel mudah ditemui di sejumlah daerah bahkan luar negeri.
Antropolog Universitas Hasanuddin, Prof Munsi Lampe, beberapa waktu lalu mengatakan, tradisi merantau suku Bugis/Makassar sudah dilakukan sejak masa lampau. Dalam bahasa Bugis, perantau ini disebut passompe. Ini merujuk pada kata sompe yang berarti ’layar’.
Di masa lampau, para perantau berlayar ke sejumlah daerah dengan beragam tujuan. Suku Bugis/Makassar juga dikenal dengan tradisi maritim yang panjang. Bahkan, pinisi yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda pada masa lampau menjadi armada yang digunakan para perantau untuk merantau dan berdagang.
”Di daerah tujuan, biasanya mereka menetap, terlebih jika daerah tersebut dianggap sebagai tanah harapan. Umumnya mereka berdiam di suatu kawasan bersama sesama perantau dan merawat identitas asal,” katanya.
Sementara pengamat budaya asal Unihas, Prof Nurhayati Rahman, mengatakan, salah satu hal yang membuat perantau asal Sulsel bisa diterima adalah falsafah yang dijunjung tinggi ”di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.
”Saat merantau, mereka membelanjakan uangnya di rantau. Di situ mereka membangun rumah, membeli kendaraan, berusaha hingga pajaknya semua dibayarkan di tempat mereka tinggal. Di kampung, biasanya mereka hanya membawa pulang yang untuk membangun rumah orangtua atau rumah ibadah,” katanya.
Keuletan bekerja dan kepandaian bersosialisasi perantau asal Sulsel juga menjadi salah satu faktor keberhasilan. Selain beradaptasi dengan budaya setempat, mereka juga merawat tradisi leluhur.
Tak heran dalam acara seperti PSBM, kisah-kisah keberhasilan ini kerap dibagi untuk menjadi inspirasi dan motivasi. Keberhasilan para perantau Sulsel juga tak lepas dari falsafah ”Sompe Massappa Deceng, Lisu Mappadeceng”. Falsafah ini punya makna dalam ’pergi mencari kebaikan atau hidup dan pulang membawa kebaikan atau melakukan perbaikan’.
Di Sulsel, sejumlah usaha yang menyerap banyak tenaga kerja dan menyumbang pendapatan daerah, banyak di antaranya yang didirikan perantau asal Sulsel yang sudah sukses di daerah lain. Mereka pergi mencari kehidupan dan kebaikan lalu pulang membawa kebaikan.





