FAJAR, AUSTIN – Menjelang seri ketiga Moto3 2026 di Circuit of the Americas (COTA), Amerika Serikat, pembalap muda sensasional Indonesia, Veda Ega Pratama, mengungkapkan rahasia unik di balik proses adaptasinya yang kilat. Sebagai rider pendatang baru (rookie), Veda memanfaatkan teknologi video game dan simulasi visual. Tujuannya untuk menaklukkan lintasan teknis Austin yang belum pernah ia injak sebelumnya.
Langkah ini menjadi strategi krusial mengingat COTA dikenal sebagai salah satu sirkuit paling sulit di kalender MotoGP dengan 20 tikungan dan perubahan elevasi yang drastis. Setelah sukses mencetak sejarah dengan meraih podium ketiga di seri Brasil pekan lalu, Veda kini membawa rasa percaya diri tinggi ke tanah Amerika.
Mengandalkan Simulasi dan Data Visual
Keterbatasan waktu latihan bebas di lintasan sesungguhnya memaksa pebalap kelahiran Wonosari, Gunungkidul ini untuk kreatif. Dalam konferensi pers daring yang digelar Kamis (26/3/2026), Veda mengakui bahwa konsol permainan dan video balap adalah “guru” utamanya sebelum turun ke aspal.
“Kalau saya, kebanyakan belajarnya dari game dan nonton video. Kan biasanya di YouTube atau platform lain ada video race-nya,” ujar Veda kepada wartawan.
Metode ini terbukti ampuh saat ia berlaga di Sirkuit Goiania, Brasil. “Kalau kemarin di Brasil, kita dapat video on-board dari pembalap lokal. Lalu, saya maksimalkan itu untuk mempelajari setiap sudut sirkuit,” tambahnya.
Strategi tersebut membuahkan hasil fantastis. Veda mengamankan posisi start keempat dan mengakhirinya dengan podium ketiga.
Strategi “Video Game” Efektif?
Penggunaan video game dan simulator dalam dunia balap modern bukan lagi sekadar hiburan, melainkan instrumen latihan yang valid.
Video game balap modern memiliki tingkat akurasi laser-scan yang sangat tinggi terhadap sirkuit asli. Dengan memainkannya, Veda dapat menghafal titik pengereman (braking point), urutan tikungan, hingga titik referensi visual tanpa harus menghabiskan bahan bakar dan risiko jatuh.
Sirkuit Austin memiliki S-Curves yang terinspirasi dari Silverstone. Melalui simulasi, Veda bisa mempelajari ritme perpindahan gigi dan posisi tubuh yang dibutuhkan untuk menjaga kecepatan di tikungan cepat tersebut.
Saat sesi Free Practice (FP) dimulai malam nanti, Veda tidak lagi butuh waktu untuk “menghafal arah jalan”. Ia bisa langsung fokus pada penyetelan (set-up) motor Honda Team Asia miliknya, karena gambaran sirkuit sudah terekam di kepalanya.
Tantangan Musim 2026
Musim 2026 menjadi ujian ketahanan bagi Veda. Dari total 22 seri yang dijadwalkan, enam di antaranya merupakan trek yang benar-benar asing baginya.
Namun, dengan modal podium di Brasil dan kemampuan adaptasi digital yang mumpuni, pembalap Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix ini diprediksi akan terus menjadi ancaman bagi pebalap mapan di kelas Moto3.
Kini, publik menanti apakah “simulasi” yang dilakukan Veda di layar kaca mampu dikonversi menjadi kecepatan nyata di lintasan Austin untuk kembali mengibarkan Merah Putih di podium Amerika. (*)





