Pakaian anak dari brand fast fashion memang sering jadi pilihan banyak orang tua. Harganya relatif terjangkau, modelnya beragam, dan mudah ditemukan. Apalagi, anak-anak tumbuh cepat sehingga baju pun sering kali harus diganti.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ada potensi risiko kesehatan yang perlu diwaspadai, Moms.
Selain berdampak pada lingkungan karena limbah tekstil yang sulit terurai, beberapa produk fast fashion juga dilaporkan mengandung bahan kimia berbahaya. Salah satunya adalah timbal.
Dikutip dari New York Post, sebuah penelitian awal yang dipresentasikan dalam pertemuan American Chemical Society menemukan, beberapa kain dari pengecer diskon dan merek fast fashion memiliki kadar timbal yang melebihi batas aman. Bahkan, kebiasaan sederhana anak-anak bisa memperbesar risiko paparan ini.
Sebelumnya, beberapa produk pakaian anak memang pernah ditarik dari peredaran karena kandungan timbal berlebih pada bagian seperti ritsleting dan kancing. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa timbal juga bisa ditemukan langsung pada kain.
Beberapa produsen diketahui menggunakan timbal(II) asetat sebagai cara murah untuk membantu pewarna menempel lebih kuat pada bahan, sehingga menghasilkan warna yang cerah dan tahan lama.
Dalam pengujian, peneliti menemukan 11 kemeja dari empat pengecer berbeda memiliki kadar timbal di atas batas yang ditetapkan Komisi Keamanan Produk Konsumen Amerika Serikat, yaitu 100 bagian per juta. Menariknya, warna-warna cerah seperti merah dan kuning cenderung memiliki kadar yang lebih tinggi.
Tak hanya itu, peneliti juga melakukan simulasi kondisi di dalam lambung untuk melihat kemungkinan paparan timbal jika kain terhisap atau tergigit oleh anak.
Hasilnya cukup mengkhawatirkan. Bahkan mengunyah pakaian dalam waktu singkat saja dapat membuat paparan timbal melebihi batas asupan harian yang direkomendasikan oleh FDA untuk anak-anak.
Jika kebiasaan ini terjadi berulang, kadar timbal dalam tubuh anak bisa meningkat hingga memerlukan pemantauan medis.
Memangnya, Apa Sih Bahaya Timbal Bagi Kesehatan Anak?Nah Moms, paparan timbal sendiri diketahui berbahaya dalam jumlah berapa pun. Dampaknya bisa meliputi gangguan perilaku, kerusakan otak, hingga masalah kesehatan jangka panjang lainnya.
Anak-anak di bawah usia 6 tahun menjadi kelompok paling berisiko. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) Amerika Serikat, hal ini karena mereka cenderung sering memasukkan benda ke dalam mulut, termasuk pakaian, mainan, atau benda lain di sekitarnya.
“Pembuatan tekstil sangat bervariasi berdasarkan batch, komposisi material, formulasi pewarna, dan kondisi pemrosesan,” kata pemimpin proyek, Kamila Deavers, kepada Newsweek.
“Variabilitas yang diamati menunjukkan bahwa keberadaan timbal bersifat multifaktorial, bukan didorong oleh satu karakteristik tunggal," imbuh dia.
Ke depannya, tim peneliti berencana menguji lebih banyak sampel pakaian untuk memahami hubungan antara kadar timbal dalam kain dan penyerapannya pada tubuh anak.
Mereka juga akan meneliti apakah proses pencucian dapat memengaruhi kandungan timbal(II) asetat, termasuk kemungkinan perpindahan zat tersebut ke pakaian lain serta interaksinya dengan berbagai jenis deterjen.
Harapannya, temuan ini bisa mendorong adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap produk pakaian anak, sekaligus mendorong industri untuk mencari alternatif pewarna yang lebih aman.
Namun, upaya tersebut bukan tanpa tantangan, Moms. Tingginya volume impor membuat pengawasan terhadap kandungan bahan dalam pakaian menjadi sulit dilakukan.
“Jika Anda ingin mengubah teknologi industri pakaian, itu akan membutuhkan banyak uang. Tanpa tekanan konsumen atau kebijakan pada produsen tekstil untuk mengeksplorasi metode pewarnaan yang lebih aman, hanya ada sedikit insentif untuk beralih," tutup dia.





