Blusukan Prabowo dan Harapan Warga dari Bantaran Rel Kereta Api di Jakarta

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Tiba-tiba saja, Presiden Prabowo Subianto blusukan. Aktivitas itu berbeda dari kesehariannya selama ini yang lebih sering menjalani lawatan kenegaraan hingga rapat penting bersama para menteri. Warga setempat pun terkejut sambil menitip harapan setelah didatangi pemimpinnya. Adakah hal tertentu yang melatari blusukaniitu?

Presiden Prabowo blusukan ke kawasan perkampungan di bantaran rel kereta api wilayah Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Kamis (26/3/2026) sore. Ia datang bersama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang terlihat memandu langkahnya sepanjang kunjungan itu.

Begitu tiba, Presiden langsung berjalan menuju ke tepian rel. Matanya menjelajah ke sekeliling jalur kereta yang tepiannya dipenuhi gubuk dan tenda berbahan terpal belas hingga tumpukan kayu dan seng yang disusun seadanya. Kendati demikian, gubuk-gubuk itu ternyata menjadi hunian bagi sebagian warga.

Sesaat kemudian, satu per satu warga menampakkan dirinya dari balik tenda dan gubuk itu. Tanpa ragu-ragu, mereka menyerbu dan mengerumuni Presiden. Alih-alih dihalau, gerombolan “wong cilik” itu seolah dipersilakan berinteraksi langsung dengan pemimpinnya itu. 

Sembari menyusuri kawasan itu, Presiden sesekali berbincang-bincang dengan warga. Terlihat ia menyimak penuh perhatian penuturan warga yang hampir semuanya berasal dari kalangan ekonomi bawah itu. Alhasil, sebagian warga memilih untuk berkeluh kesah sekaligus menyandarkan harapan secara langsung kepada Presiden. 

Salah seorang warga setempat yang memperoleh kesempatan berbincang langsung itu bernama Cono. Lebih dari 30 tahun lamanya, ia tinggal di samping rel kereta. Sebagai pekerja serabutan, ia mesti menghidupi istri dan lima orang anaknya. Keadaan yang serba kekurangan itulah yang menuntutnya untuk betah berlama-lama tinggal pada hunian tak layak.

Walaupun begitu, hanya Cono dan istrinya yang tinggal pada tenda di sisi rel. Lima anaknya sengaja ia sewakan rumah kontrakan sederhana di tengah kekurangan itu. Alasan keamanan menjadi pertimbangan utama. Sebab, tenda yang ditinggalinya dipastikan bocor jika hujan angin menerpa. 

“Kalau ngontrak, anak saya lima. Jadi minimal, anak saya di kontrakan, saya dan istri di sini (tenda samping rel). Tidak tertutup biayanya kalau saya ikut ngontrak. Ngontrak yang Rp 500 ribu khusus buat anak saya,” kata Cono, dalam keterangan tertulis dari Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI. 

Baca JugaOrisinalitas Gaya Kepemimpinan Prabowo Subianto

Harapan Cono akan hunian layak tumbuh saat ia mendadak bisa berjumpa Presiden. Tak hanya disapa, ia juga ditawari untuk dibangunkan rumah. Selama ini, tawaran semacam itu barangkali hanya ada dalam bayangannya. “Kata Pak Prabowo, 'mau ga dibikinin rumah susun?' Saya bilang, mau Pak! Karena saya ga punya tempat tinggal, emang ini adanya,” ujarnya. 

Harapan serupa tumbuh dalam diri warga lain bernama Seger. Seumur hidupnya, ia telah tinggal di bantaran rel. Dengan adanya kunjungan Presiden, ia berharap agar kelak nasibnya membaik. Setidaknya ia bisa berpindah ke hunian yang layak seperti rumah susun. 

Seger berprofesi sebagai pengamen. Sehari-hari penghasilannya sangat terbatas sehingga tak cukup menyewa rumah kontrakan. Alhasil, tinggal di bantaran rel rela dijalani walaupun kondisinya serba tidak aman. 

“Karena saya pencahariannya mengamen, kalau buat ngontrak saya nggak mampu. Penghasilan saya pas-pasan. Kalau buat kontrak nggak bisa bayar, diusir sama yang punya kontrakan. Jadi saya tinggal di sini, saya pertahanin,” kata Seger.

Seger sadar harapannya untuk mempunyai hunian layak memang kepalang tinggi. Tetapi, kunjungan Presiden kembali menumbuhkan asanya. Apalagi sosok pejabat setinggi itu baru terjadi pertama kali seumur hidup ia menempati kawasan tersebut. Bahkan, ia menyebut, kedatangan sang pemimpin bagaikan rezeki baginya. 

“Saya seneng banget, ya. Seumur-umur dari saya kecil tinggal di sini, belum pernah Presiden datang ke sini. Jadi, pas datang ke sini rasanya seneng banget. Bapak sudah berikan aku rezeki,” kata Seger. 

Momen Presiden berkunjung ke kawasan bantaran rel itu turut ia unggah pada akun Instagramnya yang bernama @prabowo. Hingga Jumat (27/3/2026) siang, unggahan itu telah disukai lebih dari 123.000 kali, menuai lebih dari 6.000 komentar, dan diunggah ulang lebih dari 5.000 kali. 

"Mendengar aspirasi masyarakat di sana, Insyallah kita akan segera membangun hunian yang layak untuk masyarakat di daerah tersebut dengan cepat. Dan sudah menjadi tekad saya untuk menyediakan hunian layak untuk masyarakat Indonesia," tulis Presiden dalam akun media sosialnya itu.

Baca JugaBlusukan ala Prabowo

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan, Presiden langsung menghubungi jajaran terkait setelah meninjau kawasan permukiman bantaran rel tersebut. Presiden meminta agar didirikan hunian bagi para warga yang tinggal di tepian rel.

Beberapa sosok yang dihubungi antara lain Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, pimpinan Perumnas, hingga PT KAI. 

Arahan pembangunan hunian itu, sebut Teddy, akan segera ditindaklanjuti pemerintah. Ia memastikan, proses awal pembangunan hunian baru langsung berjalan tanpa menunggu waktu lama. Bahkan, sebut dia, tim sudah bergerak Jumat ini guna menyiapkan proses pembangunan hunian baru yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal lama mereka.

“Menurut penyampaian warga, mereka sudah tinggal puluhan tahun di pinggir rel dengan hunian serta atap terbatas. Dan Bapak Presiden ingin agar warga tersebut dapat dibuatkan tempat tinggal dan MCK yang layak untuk ditempati sesegera mungkin,” jelas Teddy.

Ihwal agenda blusukan itu, tutur Teddy, Presiden sengaja melakukannya secara tiba-tiba. Menurutnya, keinginan untuk meninjau kondisi warga yang tinggal di bantaran rel disampaikan secara mendadak. Bahkan, sebut dia, pimpinannya itu semula berencana untuk datang dengan cara menyamar.

”Spontan, dadakan, dan mau menyamar rencananya. Pakai mobil biasa. Pakai topi dan sedikit sekali paspampres. Ternyata warga kaget dan antusias menyambut beliau,” kata Teddy.

Dihubungi terpisah, peneliti senior dari Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menyampaikan, aksi blusukan Presiden menarik untuk dicermati. Pasalnya, gaya semacam itu jauh dari yang ditampilkan Presiden selama ini yang kental nuansa militernya. Menurutnya, aksi blusukan bisa mengubah citra kepemimpinan mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tersebut. 

“Blusukan ini menyajikan citra kepemimpinan yang hangat dan dekat dengan rakyat sebagai seorang pemimpin populis. Dengan gaya seperti ini akan memunculkan citra bahwa pemimpin memahami realitas rakyat yang dihadapi,” kata Lili. 

Baca JugaSelain Prabowo, Siapa Lagi Berpeluang Maju di 2029?

Hanya saja, sebut Lili, boleh jadi keputusan Presiden untuk blusukan bukan sekadar bagian dari politik populis atau pencitraan. Ada kemungkinan memang Sang Kepala Negara ingin melihat langsung kondisi riil yang terjadi di lapangan.

Ajang turun ke bawah menjadi cara yang ditempuh untuk belanja masalah atau melihat problem keseharian masyarakat. Terlebih lagi, ia telah menjanjikan akan membangun hunian layak bagi para warga. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus Black Dolar oleh WN Liberia: Korban Orang Korsel
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
43 Ribu Kendaraan Kembali ke Jakarta dan Sekitarnya via Japek II Selatan
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
DPRD Minta Pemprov Kendalikan Arus Pendatang Pasca-Lebaran
• 2 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Serahkan 120 Unit Huntap bagi Penyintas Bencana di Tapsel, Kasatgas Tito Apresiasi Kecepatan Pendataan Bupati
• 5 menit lalukompas.com
thumb
ASDP Sebut Baru 49 Persen Pemudik Sumatera Balik ke Jawa, Prediksi Puncak Arus Balik Tanggal Segini
• 12 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.