TABLOIDBINTANG.COM - Duka mendalam masih dirasakan Anji atas kepergian sang ibunda, Siti Sundari yang meninggal pada Kamis (26/3) dan jenazahnya dimakamkan di TPU Mangun Jaya, Bekasi, Jumat (27/3) pagi.
Di tengah suasana haru, Anji mengungkap kronologi momen terakhir bersama ibunda tercinta.
Dengan suara bergetar, Anji mengucapkan terima kasih atas doa yang mengalir untuk keluarganya.
Anji menyebut sang ibu sempat dibawa ke IGD, namun bukan karena meninggal di rumah sakit.
“Terima kasih buat doanya. Jadi Mama itu bukan masuk IGD karena sakit lalu meninggal, tapi kita bawa ke sana karena sepertinya sudah tidak ada di rumah,” ungkap Anji di pemakaman.
Anji mengungkap, ibundanya memang memiliki riwayat penyakit jantung dan ginjal. Meski denikian, kondisi almarhumah justru terlihat sehat dan bahagia selama Ramadan hingga momen Lebaran.
“Sejak Ramadan sampai Lebaran, Mama kelihatan sehat. Ketemu keluarga besar, suasananya ramai dan beliau bahagia, nggak ada keluhan,” jelas Anji.
Bahkan sehari sebelum meninggal, tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Sang ibunda masih beraktivitas seperti biasa dan sempat berpamitan untuk beristirahat.
“Kemarin juga nggak ada keluhan. Pamitnya ke saya cuma bilang mau tidur,” beber Anji.
Komunikasi terakhir mereka pun terjadi lewat pesan singkat. Anji juga menceritakan ibunya masih sempat bercengkerama dengan keluarga dan teman-teman.
“Masih ngobrol, ketawa-ketawa, bahkan teleponan. Sampai malam juga masih komunikasi,” kata Anji.
Namun keesokan paginya, kabar mengejutkan datang. Anji diberitahu bahwa ibundanya tidak bangun dari tidur. Mendengar itu, Anji langsung bergegas menuju rumah sang ibu.
“Jam 7.20 saya dikabarin Mama nggak bangun. Saya langsung lari, tepuk-tepuk sambil panggil, ‘Mah, bangun Mah,’” kenang Anji.
Dalam momen penuh emosi itu, Anji sempat merasakan denyut nadi sang ibunda yang semakin melemah sebelum akhirnya menghilang.
“Sempat saya rasakan denyutnya masih ada, tapi lemah. Sampai akhirnya hilang saat saya pegang,” kata Anji.
Meski kehilangan sosok yang sangat dicintainya, Anji merasa bersyukur bisa berada di sisi sang ibu di detik-detik terakhir.
“Alhamdulillah, Mama pergi di pangkuan saya,” pungkas Anji haru.




