Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto menjadi pembicara utama dalam forum internasional Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) di Makati City, Filipina, Jumat (27/3). Dalam forum itu, Hasto menyoroti pentingnya institusionalisasi partai sebagai kunci menghadapi tekanan kekuasaan.
Dalam paparan bertajuk “The Institutionalization of Political Parties, Resilience, and Strategic Campaigns”, Hasto membedah bagaimana pelembagaan organisasi menjadi faktor utama ketahanan partai politik. Ia juga menyoroti fenomena ambisi kekuasaan yang ia sebut sebagai Triangle of Authoritarian Populism.
Berdasarkan penelitian disertasinya di Universitas Indonesia, Hasto menjelaskan konsep tersebut dibangun di atas tiga pilar, yakni feodalisme, populisme, dan Machiavellianisme.
“Segitiga ini memanfaatkan penyalahgunaan kekuasaan dan sumber daya negara untuk menciptakan persaingan elektoral yang tidak seimbang,” ujar Hasto.
Ia mengatakan PDIP secara empiris diuji oleh model kekuasaan tersebut pada Pemilu 2024. Menurutnya, meski menghadapi tekanan sistematis, mulai dari mobilisasi bantuan sosial hingga intimidasi aparat penegak hukum, PDIP tetap mampu bertahan dan memenangkan Pemilu Legislatif 2024.
“Inilah bukti nyata dari resiliensi atau daya tahan partai yang telah terinstitusionalisasi,” tegasnya.
Hasto juga membandingkan resiliensi politik dengan korporasi. Ia mencontohkan institusi keuangan global yang mampu bertahan ratusan tahun karena memiliki ideologi inti dan pelembagaan organisasi.
“Maka seorang pemimpin hebat sekalipun, jika dia tidak percaya pada sistem dan tidak melakukan pelembagaan organisasi, maka kepemimpinannya tidak akan berkorelasi pada ketahanan organisasi tersebut,” jelas Hasto.
Ia menambahkan kepemimpinan strategis baru berdampak jika mampu menggerakkan pelembagaan secara menyeluruh. Dalam konteks PDIP, Hasto menilai resiliensi partai bersumber dari kepemimpinan strategis Megawati Soekarnoputri.
Menurutnya, kepemimpinan Megawati terinstitusionalisasi melalui tujuh indikator utama: berpikir kritis, visi, arahan, nilai-nilai inti, biopolitik, keberpihakan, dan komitmen. Perpaduan tersebut membuat PDIP fleksibel, adaptif, dan memiliki kapasitas bertahan tinggi menghadapi berbagai guncangan.
Dalam forum yang juga dihadiri tokoh politik regional, Hasto menegaskan kemunduran demokrasi global sering dimulai dari pelanggaran norma oleh pemimpin terpilih. Ia menutup paparannya dengan mengutip pesan Bung Karno.
“Ketika seorang pemimpin melakukan kekerasan melalui ancaman, intimidasi, penyebaran ketakutan, dan bahkan kekuatan fisik untuk memaksakan kehendak mereka, pemimpin tersebut cenderung hanya melakukan justifikasi atau pembenaran atas setiap keputusan kebijakan,” ujar Hasto.
“Resiliensi partai bersumber dari semangat juangnya untuk menghadapi pemimpin yang ingin menghancurkan demokrasi,” pungkasnya.





