Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan kereta dari dan ke Stasiun Senen nyaris tak pernah sepi. Tak sampai hitungan lima menit, pengumuman kembali menggema. Pertanda kereta jarak jauh maupun komuter segera melintas.
Di jalur sibuk itu, kebisingan terdengar lumrah. Deru kereta melintas bahkan tak lagi dianggap mengganggu. Keadaan itu seolah risiko. Atas pilihan hidup menetap di pinggiran rel.
Advertisement
Butuh waktu bagi Cono dan warga lainnya beradaptasi ketika menjejakkan di sana. Utamanya pada desis roda kereta hingga klakson yang memekakkan telinga. Semula, sulit rasanya untuk sekadar memejamkan mata. Lama-kelamaan, suara itu seolah menyatu dalam keseharian. Bak irama yang mewarnai kerasnya kehidupan.
"Kalau kita udah buat dianggap musik. Kereta tuh jedug jedug jedug lewat, ya udah saja gitu. Kita bikin enjoy aja," kata Cono (56) saat ditemui Liputan6.com, Jumat (27/3/2026).
Denyut kehidupan warga bantaran rel, tepatnya antara Kecamatan Senen dan Johar Baru, tak ubahnya kawasan sibuk lainnya di Jakarta. Mereka menjalani aktivitas seperti orang pada umumnya. Hanya saja, kehadiran mereka seolah tak kasat mata. Padahal di sana, banyak yang menggantungkan harapan. Untuk sebuah kehidupan lebih baik.
Tetapi, Cono dan warga lain tak terlalu mempermasalahkan itu. Mereka memilih menikmati hidup. Meski harus tinggal di gubuk reyot, beratapkan seng bekas dan berdinding triplek kusam.
Gubuk itu tak sekadar rumah bagi warga. Mereka membagi petakan kecil itu sebagai tempat 'bekerja'. Hasil memulung, mereka letakkan di sana sebelum dipilah dan dibawa ke pengepul.
"Hampir 32 tahun, cuma di sini kan kita ladang usaha," ujar Cono.




