FAJAR, JAKARTA – Dominasi Timnas Indonesia atas St. Kitts and Nevis di ajang FIFA Series 2026 tak hanya soal skor telak 4-0, tetapi juga panggung bagi para pemain lokal. Nama-nama seperti Beckham Putra Nugraha dan Dony Tri Pamungkas tampil menggila. Bagaimana dengan pemain lokal lainnya?
Bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (27/3/2026), skuad asuhan John Herdman tampil dominan sejak menit awal. Penguasaan bola mencapai 61 persen menjadi bukti bagaimana Indonesia mengendalikan jalannya pertandingan, dengan kombinasi permainan rapi dan agresif.
Beckham Putra menjadi bintang utama lewat dua gol cepat pada menit ke-15 dan 25. Kedua golnya lahir dari kerja sama apik dengan Ole Romeny, yang tampil sebagai kreator serangan. Sementara dua gol lainnya masing-masing dicetak Romeny dan Mauro Zijlstra untuk mengunci kemenangan telak.
Namun, di balik pesta gol tersebut, kontribusi pemain non-naturalisasi menjadi sorotan tersendiri.
Dony Tri Pamungkas
Dony Tri Pamungkas yang dipercaya mengisi pos bek kiri tampil impresif sepanjang laga. Pemain muda milik Persija Jakarta itu menunjukkan mobilitas tinggi, aktif membantu serangan sekaligus disiplin saat bertahan. Umpan-umpan diagonalnya kerap membuka ruang, sementara kecepatannya membuat sisi kiri Indonesia hidup. Ia bahkan tampil penuh selama 90 menit dan beberapa kali memaksa lawan melakukan pelanggaran keras untuk menghentikannya.
Rizky Ridho
Di lini belakang, Rizky Ridho menunjukkan ketenangan luar biasa. Bersama Jay Idzes dan Elkan Baggott, Ridho membangun tembok kokoh yang sulit ditembus. Meski sempat mendapat tekanan di awal laga, koordinasi lini pertahanan Indonesia tetap solid hingga membuat lini depan lawan nyaris tanpa peluang berarti.
Beckham Putra
Beckham Putra sendiri tampil penuh percaya diri sebagai gelandang serang. Selain mencetak brace, ia juga aktif membuka ruang dan mengalirkan bola. Bahkan, pemain Persib Bandung itu nyaris mencetak hattrick andai sepakan melengkungnya di babak kedua tidak digagalkan kiper lawan. Penampilan ini menjadi salah satu yang terbaik dalam karier internasionalnya.
Ramadhan Sananta
Di lini depan, Ramadhan Sananta menjalankan peran penting meski tak mencetak gol. Ia bekerja keras membuka ruang, menahan bola, dan menjadi tandem bagi Romeny dalam membongkar pertahanan lawan. Beberapa peluang sempat ia ciptakan, meski belum berbuah gol sebelum akhirnya digantikan Zijlstra.
Yakob Sayuri
Sementara itu, Yakob Sayuri yang masuk di babak kedua turut memberikan warna. Kecepatannya di sisi sayap kanan kerap merepotkan lini belakang lawan. Ia bahkan sempat mencetak gol di menit akhir, namun dianulir setelah VAR menunjukkan posisi offside.
Kemenangan ini bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga sinyal kuat bahwa pemain lokal mampu bersaing dan menjadi tulang punggung tim. Di tengah komposisi skuad yang semakin kompetitif, kontribusi mereka menjadi bukti bahwa “local pride” benar-benar menyala di tubuh Garuda. (*)





