Jakarta, CNBC Indonesia - Bos raksasa investasi BlackRock, Larry Fink, menilai dunia ke depan akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja terampil seperti tukang ledeng, tukang listrik, hingga tukang las. Hal ini seiring masifnya adopsi kecerdasan buatan (AI) yang mulai menggantikan sejumlah pekerjaan kantoran.
Dalam wawancara dengan BBC International, Fink menyebut masyarakat selama ini terlalu mengagungkan pendidikan tinggi dan profesi "kantoran" seperti perbankan, hukum, dan media, sementara meremehkan pekerjaan teknis.
"Kita benar-benar menghakimi begitu banyak pekerjaan dan begitu banyak orang yang mungkin seharusnya tidak terjun ke perbankan atau media atau hukum," ujarnya, dikutip Sabtu (28/3/2026). "Mungkin mereka seharusnya menjadi pekerja hebat dengan tangan mereka, dan kita sekarang perlu menyeimbangkan kembali pendekatan itu."
Fink menegaskan, lonjakan AI justru akan menciptakan permintaan besar pada pekerjaan berbasis keterampilan teknis. Dalam surat tahunannya kepada pemegang saham, ia menyebut ledakan AI akan membuka banyak peluang kerja di sektor seperti perpipaan dan kelistrikan.
Menurut dia, perubahan ini menuntut pergeseran cara pandang terhadap karier. Selama ini, profesi seperti tukang ledeng kerap dipersepsikan negatif, sementara bankir investasi justru diidolakan.
"Kita perlu bangga bahwa karier bisa sama kuatnya di bidang perpipaan dan kelistrikan ini," kata Fink.
Ia juga mengkritik sistem pendidikan di Amerika Serikat (AS) pasca-Perang Dunia II yang terlalu mendorong generasi muda untuk kuliah. "Kita mengatakan kepada semua anak muda, pergilah ke perguruan tinggi. Dan mungkin kita berlebihan," ujarnya.
Fink juga menolak anggapan bahwa investasi besar-besaran di sektor AI merupakan gelembung. Menurutnya, perlombaan teknologi global justru menuntut investasi yang lebih agresif.
"Saya percaya ada perlombaan untuk dominasi teknologi. Jika kita tidak berinvestasi lebih banyak, China akan menang," ujarnya.
Meski begitu, ia menggarisbawahi satu tantangan utama dalam pengembangan AI, yakni mahalnya biaya energi. Karena itu, negara-negara didorong untuk mengombinasikan berbagai sumber energi, termasuk mempercepat transisi ke energi terbarukan demi memastikan pasokan energi yang murah dan stabil.
"Kenaikan harga energi adalah pajak yang sangat regresif. Ini lebih memengaruhi kaum miskin dibandingkan kaum kaya," katanya.
Sebagai informasi, BlackRock saat ini mengelola aset sekitar US$14 triliun atau setara Rp224.000 triliun, menjadikannya salah satu investor terbesar di dunia.
(dce) Add as a preferred
source on Google




